Jombang — Setelah gegap gempita Parade Teatrikal Bung Tomo yang membakar semangat kepahlawanan di halaman Kampus 3, suasana berubah menjadi syahdu dan penuh renungan saat ribuan siswa, guru, dan tenaga kependidikan MTsN 4 Jombang melangkah menuju Masjid Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar. Di bawah naungan kubah masjid yang megah, mereka bersama-sama menggelar doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan bangsa.

Dalam suasana tenang dan khusyuk itu, hadir nasehat penuh makna dari guru senior MTsN 4 Jombang, Bapak H. Moh. Yazid, pengampu mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. Dengan tutur lembut yang berwibawa, beliau mengajak seluruh siswa untuk merenungkan makna perjuangan dalam dimensi spiritual Islam.
Beliau membuka dengan basmalah dan tahmid, kemudian menyampaikan qoul yang sarat makna:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
حديث : (رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ، إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ)
رواه البيهقي بسند ضعيف، قاله الحافظ العراقي في تخريج أحاديث الإحياء، نقله العجلوني في كشف الخفاء.
وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله: هو كلام إبراهيم بن أبي عبلة وليس بحديث.
وفي رواية البيهقي:
(قَالُوا: وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ الْقَلْبِ)
ورواه الخطيب البغدادي بلفظ:
(رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ، قَالُوا: وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ قَالَ: مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ هَوَاهُ)

Beliau kemudian menjelaskan maknanya dalam bahasa Indonesia:
“Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang lemah, namun maknanya sangat dalam. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.’ Ketika para sahabat bertanya, ‘Apakah jihad besar itu?’ Beliau menjawab, ‘Jihad melawan hawa nafsu.’”
Menurut Bapak H. Yazid, meski sanad hadits ini lemah, nilai moralnya sangat kuat dan relevan di era sekarang. Jika dulu para pahlawan berjuang melawan penjajah dengan senjata dan darah, maka generasi hari ini berjuang melawan musuh yang tak kalah berat — hawa nafsu dan kemalasan diri.

“Jihad akbar bukan lagi di medan perang, tetapi di medan hati”.
“Melawan rasa malas, ego, iri, sombong, dan keinginan untuk menyerah — itu perjuangan yang sesungguhnya.
Barang siapa mampu menaklukkan dirinya sendiri, dialah pahlawan sejati,” tutur beliau dengan nada lembut namun menggugah.
Beliau menegaskan, semangat kepahlawanan sejati dimulai dari jihad melawan hawa nafsu, dari mengendalikan diri untuk terus berbuat baik, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, dan menjaga amanah. Dalam konteks madrasah, jihad akbar berarti berjuang untuk menjadi santri yang disiplin, berakhlak, dan berprestasi.
“Kalau dulu Bung Tomo berjuang dengan pekikan takbir, maka kalian berjuang dengan doa, ilmu, dan akhlak. Itulah cara generasi madrasah melanjutkan perjuangan para pahlawan,” ungkapnya menutup tausiyah dengan penuh makna.”
Setelah pesan itu, suasana masjid dipenuhi getaran batin. Ratusan siswa menunduk, sebagian meneteskan air mata haru. Doa bersama dipimpin dengan khusyuk, dilanjutkan dengan tabur bunga di makam KH. Bisri Syansuri, ulama besar dan pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, yang juga dikenal sebagai pahlawan pendidikan bangsa.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan shalat dzuhur berjamaah, menutup peringatan Hari Pahlawan ke-78 Tahun 2025 dengan nuansa spiritual yang mendalam.
Hari itu, MTsN 4 Jombang bukan hanya memperingati Hari Pahlawan, tetapi menghidupkan makna jihad sejati — perjuangan melawan diri sendiri demi menjadi manusia yang lebih baik.

Sebagaimana pesan Gus Amang dalam amanat upacara pagi tadi, dan ditutup dengan nasihat Bapak H. Yazid di siang hari:
“Pahlawan bukan hanya yang berani mengangkat senjata, tetapi juga yang berani melawan hawa nafsunya.”
Semangat itu kini menyala di dada seluruh civitas MTsN 4 Jombang —
Terus bergerak, melanjutkan perjuangan dengan ilmu, iman, dan akhlak.
Pahlawanku Teladanku — Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan.
Solomon






0 Comments