Siswi MTsN 4 Jombang Ikuti Sosialisasi Game Edukasi Budaya “Manduro Adventure” — Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Jombang Lewat Dunia Digital

by | Oct 24, 2025 | School News | 0 comments

Jombang, 23 Oktober 2025 — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi, budaya lokal sering kali perlahan memudar dari ingatan generasi muda. Namun hal itu tidak berlaku bagi MTsN 4 Jombang. Dua siswi terbaik madrasah ini, Siti Atiqoh Widya Utami dan Aisyah Tsanaya Al Husna, menunjukkan semangat luar biasa dalam melestarikan budaya daerah dengan mengikuti kegiatan Sosialisasi Game Edukasi Budaya “Manduro Adventure” yang digelar di Gedung Kesenian Jombang.
Keduanya hadir mewakili madrasah, didampingi oleh guru IPS, Ibu Meifanti, yang juga dikenal aktif mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal.

Kegiatan ini merupakan inovasi baru di bidang pendidikan budaya dan sejarah, yang memadukan unsur edukasi, teknologi, dan seni tradisional dalam satu wadah interaktif berbentuk permainan digital.
Game “Manduro Adventure” diciptakan sebagai media pembelajaran kreatif yang memperkenalkan dan melestarikan budaya asli Jombang yang mulai jarang dikenal generasi muda.

Dalam sosialisasi tersebut, peserta dikenalkan berbagai unsur budaya khas Jombang seperti Sandur Manduro, Wayang Topeng Jatiduwur, Tari Remo, Upacara Unduh-unduh, dan Besutan — kesemuanya merupakan kekayaan budaya yang sarat nilai moral dan filosofi kehidupan masyarakat Jombang tempo dulu.
Selain itu, dijelaskan pula berbagai objek budaya yang termasuk dalam warisan tak benda, seperti tradisi lisan, adat istiadat, ritus, pengetahuan dan teknologi tradisional, kesenian, bahasa, permainan serta olahraga tradisional, naskah kuno, dan situs bersejarah.

WhatsApp Image 2025 10 25 at 09.04.53 1

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Sandur Manduro, kesenian tari topeng khas Jombang yang berasal dari Desa Manduro, Kecamatan Kabuh.
Menurut penuturan Bapak Rifai, pimpinan Sanggar Panji Arum Sandur Manduro,

“Sandur itu topeng. Kesenian ini unik karena hanya Sandur yang menggunakan topeng, dan diyakini dibawa oleh Ken Arok dari Kerajaan Daha (Kediri), lalu diteruskan oleh Arya Wiraraja ke Madura, hingga akhirnya sampai ke wilayah Tarik–Mojokerto–Jombang, tepatnya di Manduro.”

Sejarah panjang inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya game edukasi “Manduro Adventure”, yang dirancang agar generasi muda bisa belajar sejarah dan budaya lewat media yang mereka sukai: game interaktif.

Game ini terdiri dari tiga level pembelajaran, yang dikemas dengan narasi ringan dan visual menarik:

  • Level 1 (Pendahuluan): memperkenalkan kisah asal mula tari Panji dan tari Klono sebagai bagian dari sejarah klasik Nusantara.
  • Level 2 (Permainan Inti): pemain diajak mengikuti tahapan-tahapan dalam Tari Sandur Manduro — dari gerak dasar hingga simbol maknanya.
  • Level 3 (Penutup): menjadi puncak permainan dengan tantangan mencari sesembahan atau sesajen berupa makanan polopendem (umbi-umbian), yang melambangkan kesyukuran kepada bumi dan alam.

Menurut Ibu Meifanti, game ini sangat relevan untuk digunakan dalam pembelajaran kelas 7 SMP/MTs, khususnya pada materi Ilmu Dasar Sejarah yang membahas tentang kearifan lokal dan sumber-sumber sejarah.

“Anak-anak sekarang lebih akrab dengan teknologi. Jadi, pendekatan digital seperti game edukatif ini bisa menjadi cara efektif untuk menanamkan cinta budaya sejak dini,” ujarnya.

Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Jombang Lewat Dunia Digital2

Kehadiran game “Manduro Adventure” menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dengan cara tradisional.
Melalui sentuhan teknologi, nilai-nilai luhur warisan nenek moyang dapat hidup kembali dalam format yang lebih menarik dan mudah diterima generasi milenial dan Gen Z.

Partisipasi MTsN 4 Jombang dalam kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa madrasah bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang kreatif untuk menumbuhkan cinta tanah air, kebanggaan budaya, dan kecakapan abad 21.

Dengan semangat “Maju, Bermutu, Mendunia”, MTsN 4 Jombang terus berkomitmen melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat dalam karakter, dan berjiwa nasionalis melalui pelestarian seni dan budaya lokal.
Karena dari mengenal budaya sendiri, lahirlah generasi yang tahu jati diri dan mampu melangkah mantap menghadapi masa depan.

By : Meifanti

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *