Santri Muda Denanyar Kobarkan Semangat Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia

by | Oct 22, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Jombang, 22 Oktober 2025 – Fajar belum sepenuhnya mengusir kegelapan, namun semangat telah membara di Kampus 3 MTsN 4 Denanyar Jombang. Sejak pukul 06.00 WIB, denyut nadi peradaban pesantren sudah berdetak kencang. Ribuan santri bergerak dari segala penjuru pondok, menyatu dalam satu tekad: mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban dunia.

Inilah wajah santri milenial yang tetap berakar pada tradisi. Santri putri dengan langkah anggun dari gerbang timur, santri putra dengan barisan rapi dari gerbang barat. Lautan putih busana muslim dipadukan dengan batik dan sepatu hitam, menjadi simbol harmoni antara nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

IMG 20251022 075235
Kolaborasi Lintas Generasi untuk Indonesia

Yang istimewa dari peringatan Hari Santri Nasional 2025 di Denanyar adalah kolaborasi menyeluruh se-Yayasan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Mulai dari PAUD hingga Mahasantri Ma’had Aly, dari guru hingga karyawan—semua bersatu dalam semangat yang sama. Ini bukan sekadar upacara, melainkan deklarasi komitmen santri abad 21 terhadap masa depan bangsa.

Tepat pukul 07.00 WIB, suasana semakin mengharu biru. Paskibraka dari MAN 4 Jombang mengibarkan bendera dengan penuh khidmat, diiringi lantunan merdu MTsN 4 Voice yang menyanyikan lagu kebangsaan. Setiap nada seakan menyampaikan pesan: kami santri, kami Indonesia.

IMG 20251022 081813
Filosofi Santri yang Relevan di Era Modern

Agus Abd. Rosyid Hafidz, M.T.Sol., selaku inspektur upacara, menyampaikan amanat yang menggetarkan jiwa. Dengan membedah filosofi kata “Santri”, beliau memberikan perspektif segar tentang peran santri di zaman now.

“Santri milenial harus menjadi Saalikun ila al-khairat – penjelajah digital yang menebar kebaikan di ruang maya dan nyata,” tegasnya. “Mereka adalah Naaibun ‘an al-masyaayikh – penerus estafet perjuangan ulama dengan medium dan metode kekinian.”

Lebih lanjut beliau menekankan, “Menjadi Taarikun ‘an al-ma’ashi di era digital berarti meninggalkan segala bentuk kemaksiatan virtual maupun fisik. Sebagai Rohibun ila al-khoiroot, santri harus aktif menciptakan konten kreatif yang menebar inspirasi. Dan yang terpenting, Yarju as-salaamata fi ad-diin wa ad-dunyaa wa al-aakhirah – mengupayakan harmoni antara keimanan, kemajuan dunia, dan keselamatan akhirat.”

IMG 20251022 084538 1
Simbolisasi dan Aksi Nyata

Usai amanat, para pengasuh dan kepala madrasah melepas burung merpati sebagai simbol harapan. Namun yang membedakan tahun ini adalah komitmen aksi nyata. Setiap burung yang terbang mewakili tekad santri untuk tidak hanya berwacana, tetapi benar-benar terlibat dalam mengawal Indonesia merdeka.

MTsN 4 Voice semakin memanaskan atmosfer dengan lagu-lagu perjuangan. Dari “Hari Santri” yang heroik, “Ya Ahlal Wathon” yang penuh cinta tanah air, hingga “Mars Mamba’ul Ma’arif” yang membangkitkan kebanggaan institusi. Setiap lirik menyampaikan pesan jelas: santri siap berperan dalam percaturan global.

Santri Muda Denanyar Kobarkan Semangat Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia
Seni Bela Diri sebagai Metafora Perjuangan

Puncak acara dihiasi atraksi memukau dari Perguruan Silat Pagar Nusa. Setiap jurus, setiap gerakan, bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah metafora visual tentang karakter santri sejati: berani karena benar, disiplin dalam action, dan spiritualitas yang mengalir dalam setiap langkah.

Dalam gerakan pesilat muda itu tergambar jelas visi “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”. Mereka tangkas namun penuh kendali, kuat namun tidak kasar, tradisional namun relevan dengan zaman.

Dari Upacara ke Aksi Nyata

Yang membedakan peringatan kali ini adalah continuity-nya. Usai upacara, seluruh tamu kehormatan melanjutkan tasyakuran di Masjid Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Bukan sekadar ritual formal, melainkan momentum untuk merancang aksi nyata.

“Kami tidak ingin semangat Hari Santri berhenti di lapangan upacara,” tegas salah seorang pengasuh. “Dari Denanyar, kami ingin melahirkan santri-santri yang tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga menguasai sains, teknologi, seni, dan budaya—siap bersaing di panggung global tanpa kehilangan jati diri.”

Santri Milenial, Penjaga Peradaban Masa Depan

Apa yang terjadi di MTsN 4 Denanyar Jombang pagi itu adalah microcosm dari kebangkitan santri Indonesia. Mereka adalah generasi yang hidup di dua dunia: mengaji kitab kuning sambil menguasai coding, hafal alfabet Arab sambil paham algoritma digital, mendalami fiqh sambil mempelajari fintech.

Inilah wajah baru “Mengawal Indonesia Merdeka”—bukan dengan senjata, melainkan dengan ilmu, karakter, dan kontribusi nyata. Santri masa depan adalah mereka yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa tercerabut dari akar tradisinya.

Sebagai penutup, seperti disampaikan dalam doa penutup upacara, semangat Hari Santri harus menjadi amal nyata. Dari Denanyar, dari Jombang, dari pesantren-pesantren di seluruh Indonesia, lahirlah para penjaga peradaban—generasi yang tidak hanya bangga dengan masa lalu, tetapi berani menatap masa depan, sambil tetap kokoh mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban dunia.

Penulis: Sulthon Sulaiman (kepala MTsN 4 Jombang)

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *