Pesantren Ramah Santri dan Madrasah Ramah Anak : Jalan Bersama Membangun Generasi Tangguh

by | Sep 28, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh: Sulthon Sulaiman
Kepala MTsN 4 Jombang

Beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Indonesia semakin menaruh perhatian pada isu kesejahteraan peserta didik. Santri dan siswa bukan hanya dipandang sebagai obyek penerima ilmu, melainkan juga sebagai subyek yang memiliki hak untuk tumbuh, berkembang, dan merasakan aman, nyaman, serta bahagia di lingkungan pendidikannya.

Di tengah semangat itu, Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang mengambil langkah penting dengan menyelenggarakan Diklat Pesantren Ramah Santri pada 26–27 September 2025 di Villa Puncak Pacet, Mojokerto. Kegiatan ini bukan sekadar forum pelatihan, tetapi sebuah gerakan moral dan kultural untuk menegaskan bahwa pesantren harus hadir sebagai rumah kedua yang sehat, ramah, sekaligus membebaskan potensi santri.

Pesantren dan Tantangan Kekinian

Pesantren sejak dulu dikenal sebagai pusat pendidikan yang melahirkan ulama, cendekia, dan pejuang bangsa. Namun, dinamika sosial saat ini menuntut pesantren untuk terus beradaptasi. Santri menghadapi tantangan baru—mulai dari persoalan psikologis, tekanan sosial, hingga dampak perkembangan teknologi.

Melalui diklat ini, para pengurus pesantren diajak memahami konsep Pesantren Ramah Santri dengan pendekatan psikologi perkembangan, kesehatan mental, hingga keterampilan praktis seperti Psychological First Aid (PFA). Lebih dari itu, peserta dilatih mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan pendekatan well-being modern seperti mindful breathing dan self-compassion break.

Langkah ini menandai satu pesan kuat: pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang aman yang memerdekakan jiwa santri untuk tumbuh sehat secara spiritual, intelektual, dan psikologis.

Sinergi Pesantren dan Madrasah

Sebagai Kepala MTsN 4 Jombang, saya merasa bangga karena lembaga kami turut aktif dalam agenda ini. Kami mengirimkan tiga delegasi: Pak Imarul Faruq (Waka Kesiswaan), Pak Husein Rohman, dan Bu Uun Khoiru Untari (Guru BK). Kehadiran mereka menjadi simbol keterlibatan madrasah dalam gerakan ramah santri, sekaligus penguatan visi Madrasah Ramah Anak yang telah kami gaungkan di MTsN 4 Jombang.

Konsep Madrasah Ramah Anak yang kami jalankan sejalan dengan nilai-nilai diklat ini. Di madrasah, kami memastikan anak didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga terlindungi dari kekerasan, diskriminasi, dan tekanan berlebihan. Kami ciptakan ruang belajar yang menyenangkan, interaktif, penuh kasih sayang, dan menghargai keunikan tiap anak.

Dalam praktik sehari-hari, guru BK menjadi mitra penting dalam mendampingi siswa menghadapi dinamika remaja. Guru mata pelajaran juga dilibatkan agar setiap kelas menjadi ruang belajar yang ramah. Prinsipnya sederhana: anak-anak tidak boleh takut datang ke madrasah, mereka harus merasa diterima, didengar, dan dihargai.

Harapan Bersama

Diklat Pesantren Ramah Santri dan program Madrasah Ramah Anak memiliki benang merah yang sama: menyiapkan generasi yang tangguh. Generasi yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga matang secara emosional, kuat secara spiritual, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

Saya percaya, sinergi pesantren dan madrasah adalah kekuatan besar. Pesantren memberi fondasi moral dan spiritual, sementara madrasah menyiapkan bekal akademik dan keterampilan hidup. Jika keduanya sama-sama ramah, maka anak-anak kita akan tumbuh dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan karakter yang kuat.

Mari kita jadikan gerakan ramah santri dan ramah anak ini sebagai budaya bersama. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang menghadirkan kasih sayang, perlindungan, dan ruang tumbuh yang sehat bagi setiap anak bangsa.

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *