Pengajian Ahad Pagi MTsN 4 Denanyar Jombang: Menanamkan Takwa, Mendengar Nasehat, dan Menjaga Ketaatan

by | Nov 9, 2025 | School News | 0 comments

Denanyar, Minggu 9 November 2025 —
Ruang guru MTsN 4 Denanyar Jombang sejak pukul 07.00 hingga 08.15 WIB terasa khusyuk dan teduh. Seperti tradisi Ahad sebelumnya, Pengajian Ahad Pagi kembali digelar dengan penuh semangat ukhuwah dan keilmuan. Kali ini, di hadiri Romo KH. Zaenal Arifin Abu Bakar, Kiyai kharismatik yang dikenal dengan kelembutan tutur dan keluasan ilmunya, beliau membacakan kitab kuning Majālis al-Tsāniyah, ini merupakan tradisi ilmiah dan spiritual yang telah lama hidup di lingkungan madrasah kami.

Sebagaimana biasanya, pengajian dibuka dengan pembacaan doa dan sambutan singkat oleh kepala Madrasah. kemudian dilanjutkan pembacaan kitab dan penjelasan mendalam dari sang pemateri. Pada kesempatan kali ini, Romo KH. Zaenal Arifin Abu Bakar menyampaikan materi dengan penuh wibawa dan kelembutan khas ulama pesantren.

Beliau membacakan hadis ke-28 dari kitab Majālis al-Tsāniyah yang juga sejalan dengan hadis ke-28 dalam Al-Arba’in an-Nawawiyyah, lengkap dengan syarah (penjelasan) dan penjabaran makna kehidupan di dalamnya.

عَنْ أَبِي نَجِيحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا.

قَالَ: أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

Artinya:
Dari Abu Najih al-‘Irbadh bin Sariyah ra. berkata: Rasulullah ﷺ pernah menasihati kami dengan nasihat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami menetes. Kami berkata: “Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.”
Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin sekalipun ia seorang budak. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan. Maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan geraham kalian. Dan jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap bid’ah itu adalah sesat.”

362d891f eee8 481d 92b9 8be4220aac36

Dalam penjelasannya, KH. Zaenal Arifin menegaskan empat pesan utama dari hadis ini yang relevan sepanjang zaman:

  1. Takwa kepada Allah, Wasiat pertama Rasulullah ﷺ adalah agar setiap hamba senantiasa bertakwa — yakni menjalankan perintah Allah dengan sepenuh keikhlasan dan menjauhi larangan-Nya dengan kesungguhan hati. Takwa bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran total bahwa Allah selalu hadir dalam setiap detak langkah kehidupan kita.
  2. Mendengar dan Taat, Dalam kehidupan sosial dan bernegara, kita dituntut untuk mendengar dan taat kepada pemimpin, selama tidak dalam perkara maksiat. Ketaatan bukan berarti tunduk buta, namun menjaga harmoni, stabilitas, dan kebersamaan umat. Bahkan Nabi ﷺ menegaskan, “Walau pemimpinmu seorang budak,” menandakan bahwa ukuran kepemimpinan bukan status, tapi amanah dan tanggung jawab.
  3. Berpegang Teguh pada Sunnah, Nabi ﷺ juga mengingatkan bahwa di masa depan akan muncul banyak perbedaan dan perselisihan. Karena itu, umat Islam harus menjadikan sunnah Nabi dan sunnah para Khulafā’ Rāsyidīn sebagai pedoman hidup. Beliau menggambarkan dengan ungkapan yang sangat kuat: “Gigitlah sunnah itu dengan geraham kalian,” artinya peganglah dengan kuat, jangan lepaskan walau dalam godaan dunia modern.
  4. Hindari Bid’ah dan Kesombongan, Dalam hal ibadah mahdhah — seperti shalat, puasa, zakat, dan haji — umat Islam tidak diperbolehkan menambah-nambahi atau menciptakan amalan baru yang tidak berdasar pada tuntunan Nabi ﷺ. “Karena setiap bid’ah adalah sesat,” ujar beliau menukil hadis tersebut.

KH. Zaenal juga menegaskan, manusia tidak layak bersikap takabur, sebab hanya Allah yang berhak atas sifat al-Mutakabbir (Maha Tinggi). Kesombongan manusia hanyalah tanda lemahnya jiwa dan jauhnya dari sifat tawadhu’.

ffa4c46e 019b 4cea 998b dec65ea6006c

Dalam konteks kehidupan modern, pesan ini memiliki relevansi besar. KH. Zaenal Arifin mengajak seluruh civitas madrasah — guru, tenaga pendidik, dan siswa — untuk menjadikan takwa sebagai ruh profesi dan pembelajaran.

Guru dituntut untuk mendidik dengan keikhlasan, menjauhi sikap formalitas, dan menjadikan tugasnya sebagai ibadah.

Siswa didorong untuk belajar bukan semata mengejar nilai, tapi membentuk karakter, akhlak, dan cinta ilmu yang berlandaskan iman.

Dalam era digital yang penuh konten instan dan provokatif, umat Islam harus pandai memilih nasihat yang baik, memilah mana yang menuntun pada kebaikan dan mana yang hanya memperkeruh suasana.

Beliau menambahkan, “Taat pada guru dan pemimpin bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kedewasaan iman. Dan menjaga sunnah Nabi di zaman penuh distraksi adalah jihad zaman modern.”

Ruang guru yang biasanya dipenuhi aktivitas administratif pagi itu berubah menjadi majelis ilmu yang penuh keteduhan. Para guru mendengarkan dengan khusyuk, sebagian menunduk sambil meneteskan air mata ketika hadis dibacakan. Aroma kopi hangat dan kitab kuning yang terbuka di pangkuan menambah suasana khas pesantren yang sarat keberkahan.

Diskusi berlangsung hangat. Beberapa guru mengajukan pertanyaan seputar praktik ibadah dan implementasi nilai takwa dalam kehidupan sekolah. KH. Zaenal menjawab dengan bijak, menegaskan bahwa “takwa bukan hanya di masjid, tapi di ruang kelas, di halaman madrasah, bahkan di dunia digital yang kita sentuh setiap hari.”

Pengajian ditutup pada pukul 08.15 WIB dengan doa bersama agar seluruh guru dan siswa MTsN 4 Denanyar senantiasa diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam menjalankan perintah Allah, mendengar nasihat yang baik, dan taat pada kebenaran.

Romo KH. Zaenal menutup dengan pesan:

“Gigitlah sunnah Nabi dengan gerahammu, jangan lepaskan. Karena di sana ada cahaya keselamatan dunia dan akhirat.”

Pengajian Ahad pagi ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus globalisasi dan distraksi digital, pesan Rasulullah ﷺ dalam hadis ke-28 tetap hidup dan relevan. Bahwa takwa, nasihat, dan ketaatan adalah tiga pilar kokoh yang menjaga umat dari kehancuran moral dan spiritual.

MTsN 4 Denanyar Jombang kembali menunjukkan bahwa madrasah bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga rumah nilai dan cahaya ilmu, tempat di mana guru dan siswa sama-sama belajar untuk hidup dalam ketaatan dan ketulusan.

Semoga cahaya pengajian Ahad pagi ini terus berpendar dalam langkah-langkah kehidupan setiap insan madrasah.

Solomon

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *