MTsN 4 Jombang: Dari Sampah Jadi Berkah, Menuju Gerakan Ekologis yang Menyentuh Hati

by | Oct 25, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh : Sulthon Sulaiman

Jombang – Pagi di Aula MTsN 4 Denanyar Jombang tak sekadar diisi dengan gema salam. Sabtu, 25 Oktober 2025 itu, ruangan itu bergelora dengan semangat baru. Ratusan siswa dan guru, yang tak lagi sekadar warga madrasah melainkan kader lingkungan, berkumpul. Agenda mereka jelas namun ambisius: Rencana Aksi Tindak Lanjut Pendidikan Lingkungan Hidup. Ini bukan sekadar program, melainkan deklarasi komitmen untuk mewujudkan “Madrasah Hijau dan Berkah” dalam setiap langkah.

Di tengah hiruk-pikuk isu perubahan iklim dan krisis sampah, MTsN 4 Jombang memilih untuk tidak berpangku tangan. Di sini, Adiwiyata dimaknai lebih dalam dari sekadar lomba atau program penghijauan fisik. Ia adalah gerakan kultural, sebuah upaya menata ulang perilaku dan mindset.

WhatsApp Image 2025 10 25 at 12.18.53 1
Adiwiyata: Bukan Sekadar Hijau, Tapi Soal Kebiasaan

Kepala MTsN 4 Jombang, Bapak Sulthon Sulaiman, dengan tegas membedakan persepsi ini. Dalam sambutannya yang penuh energi, ia menyatakan bahwa inti dari Adiwiyata adalah pembangunan kebiasaan.

“Adiwiyata adalah gerakan membangun kebiasaan. Bagaimana seluruh warga madrasah membiasakan hidup bersih, mencintai alam, memilah sampah, mengelola limbah, dan menjaga kesehatan lingkungan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Lebih dari itu, Pak Sulthon menempatkan gerakan ini dalam kerangka spiritual yang lebih luas. Ini adalah perwujudan dari akhlak ekologis – sebuah tanggung jawab nyata manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menjaga alam bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban yang lahir dari kesadaran dan cinta.

WhatsApp Image 2025 10 25 at 12.18.53
3R dan Aksi Nyata: Belajar dengan Tangan Berlumpur

Teori tanpa praktek adalah kosong. Itulah sebabnya setelah sesi pembekalan, para peserta langsung diterjunkan ke lapangan. Aula yang hening berganti dengan riuh rendah aksi di sudut-sudut madrasah.

Mereka mempraktikkan pemilahan sampah organik dan anorganik dengan cermat. Tak hanya memilah, mereka juga belajar mengubah sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai melalui proses komposting. Lubang biopori, si lubang resapan ajaib penyerap air hujan, juga dibor di titik-titik strategis. Tangan-tangan mereka mungkin kotor, tetapi justru di situlah pembelajaran hidup paling berharga terjadi.

Prinsip 3R – Reduce, Reuse, Recycle – menjadi panduan utama. Mengurangi sampah dari sumbernya (terutama barang sekali pakai), menemukan kehidupan baru untuk barang bekas, dan mendaur ulang limbah menjadi produk bernilai, adalah mantra yang dipegang teguh.

WhatsApp Image 2025 10 25 at 12.18.05
Gema Sajadah: Ketika Sampah Menjadi Simbol Kepedulian

Inilah yang membedakan gerakan di MTsN 4 Jombang. Mereka tidak berhenti pada pengelolaan sampah secara teknis. Mereka melangkah lebih jauh dengan menghidupkan GEMA SAJADAH (Gerakan Madrasah Sampah Jadi Sedekah).

Gerakan unggulan Kabupaten Jombang ini mentransformasi paradigma tentang sampah. Sampah yang telah dipilah dengan baik, khususnya sampah anorganik seperti plastik dan kertas, dikumpulkan dan dijual. Hasil penjualannya tidak masuk ke kas sekolah, melainkan disalurkan untuk kegiatan sosial dan sedekah.

“Inilah bentuk nyata bahwa kebersihan bukan hanya sebagian dari iman, tetapi juga bagian dari kemanusiaan dan kepedulian sosial,” ujar Pak Sulthon, menyentuh relung hati yang paling dalam.

Dengan Gema Sajadah, selembar plastik bekas kemasan air mineral bukan lagi sekadar sampah. Ia telah bertransformasi menjadi simbol kepedulian, sebuah jembatan antara kesalehan ekologis dan kesalehan sosial.

Semangat yang Bergema: Dari Yel-Yel hingga Aksi

Sebelum menyebar ke seluruh penjuru madrasah, semangat itu disulut terlebih dahulu dengan yel-yel pembangkit jiwa yang dikumandangkan dengan lantang:

Selamat pagi!
Pagi… pagi… pagi…
Siapa kita?
Matsafour Jombang!
Matsafour!
Maju… Bermutu… Mendunia!

Teriakan itu bukan sekadar kata-kata. Ia adalah ikrar, sebuah pengingat identitas bersama sebagai komunitas madrasah yang progresif, bermutu, dan berwawasan global tanpa melupakan akar tanggung jawang lingkungannya.

Masa Depan yang Hijau dan Bermakna

MTsN 4 Jombang telah membuktikan bahwa pendidikan lingkungan bukanlah kurikulum tambahan yang membebani. Ia adalah jiwa yang menyatu dalam denyut nadi kehidupan madrasah. Di sini, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya bersinergi membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan kuat secara moral, tetapi juga tangguh dalam menjaga lingkungan.

Pesan penutup dari Bapak Sulthon Sulaiman layak menjadi renungan bagi kita semua:

“Mari kita rawat bumi sebagaimana kita merawat hati,” pesannya, “karena lingkungan yang bersih akan menumbuhkan pikiran yang jernih dan semangat belajar yang tinggi.”

Dalam langkah-langkah kecil para kader Adiwiatanya, MTsN 4 Jombang sedang menulis sebuah narasi besar. Sebuah cerita tentang bagaimana madrasah tidak hanya mencetak generasi yang pandai mengerjakan soal ujian, tetapi juga generasi yang terampil mengerjakan “ujian” terbesar abad ini: menyelamatkan bumi untuk masa depan yang lebih hijau dan penuh berkah.

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *