Membangun Karakter dengan Senyuman: Jejak Langkah Pagi di MTsN 4 Jombang yang Humanis dan Berkarakter

by | Nov 5, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh: Sulthon Sulaiman

Pukul 06.20 WIB. Mentari pagi belum terik, namun energi positif sudah memancar kuat di setiap sudut MTsN 4 Jombang. Ini bukan sekadar rutinitas pagi biasa. Ini adalah momen di mana pendidikan karakter dihidupkan, bukan sekadar diajarkan. Di gerbang madrasah, para guru sudah berdiri tegak, bukan dengan raut pengawas yang kaku, tetapi dengan senyum tulus dan sapaan hangat yang menyapa setiap siswa tanpa kecuali. Inilah fondasi pertama dari konsep Madrasah Ramah Anak (MRA) yang kami bangun: setiap anak berhak merasa dilihat, disambut, dan dihargai sejak langkah pertama mereka memasuki lingkungan belajar.

4d06ec30 01c1 4530 b5be 075bdb84c360
Lebih dari Sekadar Disiplin: Pembinaan yang Memanusiakan

Di sudut halaman, Pak Supriyadi, guru Penjas Orkes, tak sekadar menjadi “pencatat pelanggar”. Buku besar di tangannya adalah alat untuk memahami, bukan menghakimi. Setiap catatan tentang seragam yang belum lengkap, rambut yang perlu dirapikan, atau kelalaian kecil lainnya, adalah pintu masuk untuk dialog dan pembinaan. Pendekatan kami jelas: disiplin bukan tentang hukuman, tetapi tentang membangun kesadaran. Setiap siswa yang “tercatat” akan mendapatkan pendampingan personal untuk memahami alasan di balik aturan dan pentingnya tanggung jawab atas diri sendiri.

Ini adalah implementasi nyata dari pendidikan karakter yang humanis. Kami percaya, kesalahan siswa adalah ruang bagi guru untuk hadir sebagai pembimbing, bukan sebagai hakim.

d9ad126a 1d01 4355 ac33 4e2d46391c1b
Solusi Cepat, Pendekatan Penuh Kasih: Gunting dan Cukur sebagai Alat Edukasi

Salah satu inovasi sederhana namun powerful adalah posko “Grooming Cepat” yang digerakkan oleh tim UKS dan BK. Bayangkan, seorang Pak Ata Muzakki, pembina kesiswaan, dengan cekatan merapikan rambut siswa yang terlalu panjang dengan gaya kekinian ala “bapak pembina berjiwa muda”. Di sebelahnya, ada tim yang siap memotong kuku panjang. Semua dilakukan dengan canda tawa, dalam atmosfer persahabatan.

Tidak ada malu, tidak ada amarah. Hanya solusi praktis yang diberikan dengan rasa sayang. Inilah esensi Sekolah Ramah Anak: menciptakan sistem yang mendukung pertumbuhan positif siswa tanpa kekerasan dan penghakiman. Kami tidak ingin siswa merasa terintimidasi, tetapi merasa dibantu untuk menjadi lebih baik.

Mempersiapkan Hati dan Pikiran: Ritual Pagi yang Menenangkan Jiwa

Sebelum ilmu pengetahuan mengisi pikiran, ketenangan dan rasa syukur harus lebih dulu mengisi hati. Tradisi sungkem (sungkem) kepada guru sebelum masuk kelas adalah momen sakral yang kami jaga. Ini bukan tentang feodalisme, tetapi tentang menanamkan nilai tawadhu’ (rendah hati), menghormati orang yang telah berjasa dalam hidup kita, dan membersihkan hati sebelum memulai hari.

Ditambah dengan yel-yel penyemangat khas setiap kelas yang dikumandangkan dengan lantang, suasana belajar pun tercipta: ceria, penuh semangat, namun tetap khidmat.

Melatih Kedisiplinan Spiritual: Shalat Dhuha sebagai Pengisi Jiwa

Menjelamg jam ketiga, suasana madrasah berubah menjadi hening dan religius. Bergiliran, kelas yang terjadwal melaksanakan shalat Dhuha berjamaah di masjid. Ini bukan sekadar kewajiban agama, tetapi bagian dari pembiasaan karakter religius dan melatih kedisiplinan ibadah. Kami ingin siswa tidak hanya pandai secara akademis, tetapi juga kuat secara spiritual dan memiliki moral yang kokoh.


Karakter Dibangun dari Rutinitas yang Konsisten

Geliat pagi di MTsN 4 Jombang adalah sebuah simfoni pendidikan yang indah. Setiap elemen—dari senyum di gerbang, gunting di halaman, hingga sungkem di depan kelas—adalah nada-nada yang disusun rapi untuk menciptakan melodi karakter yang kuat pada diri siswa: disiplin, religius, peduli, sopan, dan bersemangat.

Sebagai seorang pemimpin di madrasah ini, saya yakin bahwa lingkungan yang aman, nyaman, dan membahagiakan adalah prasyarat utama untuk tumbuhnya kecerdasan intelektual dan emosional. Madrasah Ramah Anak bukanlah slogan. Ia adalah nafas yang kami hidupkan setiap pagi, dalam setiap sapa, dan dalam setiap solusi yang kami berikan. Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik dimulai dengan kasih sayang dan keteladanan, bukan ancaman dan hukuman. Dan itu semua bermula dari sebuah senyuman tulus di pagi hari.

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *