“Manduro Adventure”: Ketika Siswi MTsN 4 Jombang Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Lewat Game Digital

by | Oct 26, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh: Sulthon Sulaiman

Jombang – Di era di mana jari-jari muda lebih lincah mengetik di layar ponsel daripada menorehkan tinta di buku sejarah, sebuah tantangan besar mengemuka: bagaimana membuat warisan budaya tak lagi dianggap sebagai “barang usang” yang membosankan? Jawabannya datang dari dua siswi MTsN 4 Jombang, Siti Atiqoh Widya Utami dan Aisyah Tsanaya Al Husna, yang dengan antusias mengikuti Sosialisasi Game Edukasi Budaya “Manduro Adventure” di Gedung Kesenian Jombang, 23 Oktober 2025.

Mereka hadir bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai duta generasi Z yang siap menjembatani masa lalu dan masa depan. Kegiatan ini merupakan terobosan brilian yang memadukan tiga unsur penting: edukasi, teknologi, dan kearifan lokal, dikemas dalam bentuk yang paling disukai anak-anak zaman now: game digital.

WhatsApp Image 2025 10 25 at 09.04.53
Budaya Bukan Cerita Lama, Tapi Game yang Asyik

“Manduro Adventure” lebih dari sekadar game. Ia adalah mesin waktu digital yang membawa pemainnya menyelami kekayaan budaya Jombang yang mulai memudar. Di dalamnya, para pemain akan berjumpa dengan:

  • Sandur Manduro: Kesenian tari topeng khas dari Desa Manduro
  • Wayang Topeng Jatiduwur: Seni pertunjukan yang penuh filosofi
  • Tari Remo: Tari penyambutan yang gagah
  • Upacara Unduh-unduh: Ritual syukur atas panen
  • Besutan: Teater tradisional yang kocak namun sarat makna

Semua ini bukan lagi sekadar gambar dalam buku pelajaran, tetapi menjadi karakter dan setting dalam petualangan interaktif yang menantang.

Yang paling menarik perhatian kami adalah penjelasan mendalam tentang Sandur Manduro. Bapak Rifai, pimpinan Sanggar Panji Arum Sandur Manduro, dengan penuh semangat membagikan kisahnya:

“Sandur itu topeng. Kesenian ini unik karena hanya Sandur yang menggunakan topeng, dan diyakini dibawa oleh Ken Arok dari Kerajaan Daha (Kediri), lalu diteruskan oleh Arya Wiraraja ke Madura, hingga akhirnya sampai ke wilayah Tarik–Mojokerto–Jombang, tepatnya di Manduro.”

Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Jombang Lewat Dunia Digital2 1
Tiga Level Petualangan Budaya

Game ini dirancang dengan pendekatan pedagogis yang matang, terdiri dari tiga level berjenjang:

Level 1: Gerbang Sejarah
Pemain diajak mengenal kisah asal mula Tari Panji dan Tari Klono,membangun fondasi pemahaman tentang sejarah klasik Nusantara. Di sini, sejarah tidak lagi berupa tanggal dan nama yang harus dihafal, melainkan cerita yang mengalir layaknya dongeng interaktif.

Level 2: Jejak Sandur Manduro
Ini adalah jantung dari permainan.Pemain tidak hanya menonton, tetapi harus mempraktikkan gerak dasar Tari Sandur Manduro. Setiap gerakan memiliki makna filosofis yang dijelaskan dengan cara yang menyenangkan. Belajar menari tidak lagi perlu malu-malu di depan kelas, tapi bisa dilakukan secara privat di dunia digital.

Level 3: Ritual Penghormatan pada Alam
Level penutup yang paling mengharukan.Pemain diajak memahami makna sesembahan berupa makanan polopendem (umbi-umbian) sebagai simbol kesyukuran kepada bumi. Di sini, anak-anak diajarkan bahwa budaya leluhur kita pada hakikatnya adalah cerminan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Relevansi dalam Pembelajaran di Kelas

Sebagai guru IPS, saya melihat game ini menjadi alat yang sangat powerful. Ia sesuai dengan kurikulum kelas 7 yang membahas kearifan lokal dan sumber-sumber sejarah.

“Anak-anak sekarang lebih akrab dengan teknologi. Jadi, pendekatan digital seperti game edukatif ini bisa menjadi cara efektif untuk menanamkan cinta budaya sejak dini,” ujar saya dalam sesi wawancara.

Yang membuat saya optimis adalah respon positif dari Siti dan Aisyah. Keduanya tidak hanya antusias memainkan game tersebut, tetapi juga mulai bertanya tentang detail-detail budaya yang selama ini mungkin mereka anggap sebagai “Cerita Kuno”. Game ini berhasil membangkitkan rasa penasaran intelektual mereka.

Melampaui Batas Madrasah

Partisipasi MTsN 4 Jombang dalam inisiatif seperti ini membuktikan bahwa madrasah tidak ketinggalan zaman. Justru, kami berada di garda terdepan dalam melestarikan budaya dengan cara-cara yang kreatif dan relevan.

Di tangan generasi seperti Siti dan Aisyah, Sandur Manduro tidak akan mati tertelan zaman. Ia akan hidup dalam format baru, dikenang melalui medium baru, dan dicintai oleh generasi baru.

“Manduro Adventure” mengajarkan pada kita semua bahwa melestarikan budaya tidak harus dengan cara yang kaku dan formal. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk bertemu dengan generasi muda di “Playground” mereka: dunia digital.

Dengan semangat “Maju, Bermutu, Mendunia”, MTsN 4 Jombang terus berkomitmen menciptakan generasi yang tidak hanya pandai mengoperasikan gadget, tetapi juga memahami jati diri budaya yang dioperasikan melalui jari-jari mereka. Karena pemimpin masa depan yang hebat adalah mereka yang tidak pernah lupa dari mana mereka berasal.

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *