Khidmat di Bumi Santri: Upacara Bendera yang Menempa Karakter, Melahirkan Pemimpin

by | Oct 20, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh: Sulthon Sulaiman

JOMBANG – Pukul 06.50 WIB, matahari pagi belum sepenuhnya menguasai langit Jombang. Tapi di Lapangan Kampus 1 MTsN 4 Jombang, ratusan siswa sudah berdiri tegak dalam formasi sempurna. Seragam putih-biru mereka terlihat kontras dengan hijau rumput yang masih basah oleh embun pagi. Ini bukan sekadar upacara bendera rutin – ini adalah ruang tempa karakter yang sedang bekerja.

Disiplin sebagai Dasar Karakter

Setiap detail upacara hari Senin, 20 Oktober 2025 ini berbicara tentang kedisiplinan yang sudah mendarah daging. Dari barisan yang rapat, pandangan lurus ke depan, hingga gerakan penghormatan yang serempak. Tidak ada yang main-main. Tidak ada yang setengah hati.

“Bagi kami, disiplin bukan sekadar patuh aturan,” ujar H. M. Yazid, M.Pd., pembina upacara yang juga guru senior di MTsN 4 Jombang. “Disiplin adalah bentuk pengabdian pertama sebelum mengabdi pada hal-hal yang lebih besar.”

Mandiri dalam Tindakan, Tanggung Jawab dalam Sikap

Yang menarik, upacara ini sepenuhnya dijalankan oleh siswa. Dari pemimpin upacara, pengibar bendera, hingga protokol – semuanya tangan-tangan muda yang belajar memikul tanggung jawab. Kelas IX-C sebagai petugas upacara hari ini menunjukkan kematangan yang mengesankan.

“Ini bagian dari pendidikan kemandirian,” jelas Yazid. “Kami percaya, kemandirian lahir dari kesempatan memimpin dan dipimpin. Tanggung jawab tumbuh dari pengalaman konkret, bukan sekadar teori di kelas.”

Merangkai Sejarah, Menjemput Masa Depan

Dalam amanatnya yang berapi-api, Yazid tidak sekadar menyampaikan instruksi. Ia merajut benang merah antara masa lalu yang gemilang dengan masa depan yang penuh harapan. Dari Mbah Bisri Syansuri – sang pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar – hingga Gus Dur yang menjadi presiden, dan para penerusnya di parlemen.

“Lihatlah estafet kepemimpinan ini,” seru Yazid. “Mereka semua adalah santri. Mereka membuktikan bahwa identitas santri bukan penghalang untuk memimpin bangsa, justru bekal terbaik untuk mengabdi pada negeri.”

Pesan itu bukan retorika kosong. Di hadapannya berdiri generasi penerus yang setiap hari menghafal Al-Qur’an, belajar ilmu duniawi, dan kini belajar memimpin dari hal paling dasar: memimpin diri sendiri dalam upacara bendera.

Maaziltu Tholiban: Falsafah Hidup, Bukan Sekadar Semboyan

“Maaziltu Tholiban – Saya tetap menjadi santri.” Kalimat ini bergema bukan sebagai slogan, melainkan sebagai komitmen hidup. Menjadi santri berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Menjadi santri berarti siap memikul amanah di mana pun berada.

“Kelak, ketika kalian menjadi dokter, insinyur, atau bahkan presiden,” tegas Yazid, “tetaplah menjadi santri. Santri yang rendah hati, santri yang haus ilmu, santri yang tak pernah lupa asal usul.”

Upacara sebagai Mikrokosmos Kehidupan

Bagi MTsN 4 Jombang, upacara bendera adalah mikrokosmos kehidupan berbangsa. Di sini, siswa belajar tentang hierarki dan demokrasi, tentang kepatuhan dan keberanian, tentang individu dan kolektif.

“Dalam barisan yang rapat, mereka belajar tentang persatuan,” papar Yazid. “Dalam penghormatan bendera, mereka belajar cinta tanah air. Dalam amanat pembina, mereka menempa visi kehidupan.”

Dari Lapangan ke Khotmil Qur’an: Sebuah Kesatuan

Usai upacara, para siswa tidak bubar begitu saja. Mereka berjalan tertib menuju kelas untuk melanjutkan Khotmil Qur’an serentak. Dari disiplin nasionalis menuju kekhidmatan spiritual – sebuah transisi yang mulus, natural, penuh makna.

“Inilah pendidikan integratif yang kami bangun,” kata Yazid. “Pagi mereka belajar cinta bangsa melalui upacara, siang mereka perkuat iman melalui Khotmil Qur’an. Keduanya bukan hal yang terpisah.”

Upacara20 10 2025 5 1
Melahirkan Generasi Paripurna

MTsN 4 Jombang sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar madrasah unggulan. Mereka sedang menumbuhkan generasi paripurna: yang paham ilmu dunia dan akhirat, yang mencintai bangsa tanpa melupakan jati diri sebagai santri.

Setiap Senin pagi, melalui upacara bendera, mereka menanamkan nilai-nilai itu secara bertahap, konsisten, penuh kesadaran. Seperti air yang menetes di batu – perlahan tapi pasti membentuk karakter.

Hari ini, mereka belajar berdiri tegak dalam upacara. Besok, mereka akan berdiri tegak membawa nama bangsa di kancah dunia. Hari ini, mereka memimpin barisan. Besok, mereka akan memimpin negeri.

Dan ketika saat itu tiba, mereka akan tetap mengingat pagi-pagi di Jombang, ketika mereka belajar menjadi pemimpin dari hal paling sederhana: menghormati bendera, mendengarkan dengan khidmat, dan berkata, “Saya tetap menjadi santri.”

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *