Keagungan Cinta : Melacak Jejak Talbiyah dan Sholawat dalam Dialog Abadi Jibril dan Muhammad

by , | Sep 29, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh: Sulthon Sulaiman & H. Moh. Yazid

Dalam lembaran kitab Nazhatu al-Majalis wa Muntakhabu al-Nafa’is, karya Syeikh Abdurrahman al-Shafuri, tersimpan sebuah narasi suci yang menyentuh relung terdalam iman. Dialog antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW ini bukan sekadar kisah, melainkan sebuah pijar cahaya yang menerangkan asal-usul dua ibadah mulia: Talbiyah dalam haji dan Sholawat Nabi. Kisah ini adalah tentang pencarian, pengenalan, dan puncak dari segala bentuk pengabdian—cinta kepada Sang Pencipta dan penghormatan kepada kekasih-Nya.

Diam yang Penuh Makna: Saat Semesta Menyebut Nama

Alkisah, ketika Allah SWT menciptakan Jibril, sang malaikat agung itu terdiam dalam kekaguman dan ketidak-tahuan selama sepuluh ribu tahun. Dalam kesunyian yang panjang itu, Jibril berada dalam keadaan kosong, menunggu sebuah perintah, sebuah penjelasan tentang misi keberadaannya. Dia adalah entitas yang baru tercipta, murni, namun belum memahami jati dirinya dan tujuan penciptaannya.

Kemudian, datanglah panggilan Ilahi yang mengguncang singgasana ruhnya: “Wahai Jibril!”

Dalam sekejap, panggilan itu bukan sekadar suara. Itu adalah penciptaan kedua. Saat itulah Jibril tahu. Ia mengetahui bahwa namanya adalah Jibril. Panggilan itu memberinya identitas dan kesadaran. Dan dari kesadaran itu, meluncurlah respon yang tulus dan spontan: “Labbaik Allohumma Labbaik” – Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu.

Kalimat inilah yang kemudian diabadikan menjadi Kalimat Talbiyah, yang dikumandangkan oleh jutaan jamaah haji hingga hari ini. Setiap “Labbaik” yang diteriakkan di Padang Arafah atau di tanah suci adalah gema dari jawaban Jibril yang pertama. Ia adalah simbol penyerahan total, pengakuan bahwa kita datang karena dipanggil, dan bahwa seluruh eksistensi kita bermakna hanya karena ada Sang Pemanggil.

Universitas Ruhani: Mensucikan, Mengagungkan, dan Memuji

Dialog tidak berhenti di sana. Allah kemudian memerintahkan Jibril dengan tiga perintah fundamental yang menjadi pondasi seluruh ibadah:

  1. “Qaddisni” (Sucikan Aku). Maka Jibril pun bertasbih, “Ya Quddus,” selama sepuluh ribu tahun. Ini adalah pelajaran pertama: penyucian. Sebelum apa pun, hati dan jiwa harus dibersihkan dari segala prasangka, syirik, dan kotoran duniawi untuk mendekati Yang Maha Suci.
  2. “Majjidni” (Agungkan Aku). Jibril pun bertakbir, “Ya Majid,” selama sepuluh ribu tahun berikutnya. Ini adalah pengakuan akan Keagungan Mutlak. Di hadapan Keagungan-Nya, segala sesuatu yang lain menjadi kecil dan tidak bermakna.
  3. “Ahmadni” (Pujilah Aku). Jibril kemudian bertahmid, “Ya Hamid,” selama sepuluh ribu tahun lagi. Pujian adalah ekspresi cinta dan pengakuan atas segala Karunia dan Keindahan-Nya.

Tiga puluh ribu tahun Jibril menjalani “universitas ruhani” ini. Ia diajarkan untuk mensucikan, mengagungkan, dan memuji. Proses yang lama ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual menuju Allah membutuhkan disiplin, waktu, dan pengulangan yang tidak kenal lelah.

Puncak Penyingkapan: Rahasia di Balik Tirai Arsy

Setelah melalui proses pemurnian yang panjang, Allah membukakan tirai Arsy bagi Jibril. Dan apa yang dilihatnya? Sebuah kalimat yang terpampang gemilang: “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.”

Kalimat yang familiar, kalimat yang menjadi inti dari Islam. Namun, bagi Jibril, ini adalah sebuah penemuan yang mengejutkan. Siapa “Muhammad” ini? Namanya bersanding dengan Nama Allah dalam kalimat agung yang terpampang di tempat tertinggi di alam semesta, sebuah tempat yang baru bisa ia lihat setelah puluhan ribu tahun menyucikan, mengagungkan, dan memuji.

Dengan penuh rasa ingin tahu, Jibril bertanya, “Wahai Rabb, siapakah Muhammad Rasulullah itu?”

Dan inilah puncak dari dialog suci ini. Allah SWT menjawab dengan sebuah pernyataan yang merombak seluruh hierarki makna penciptaan:

“Wahai Jibril, kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu. Aku juga tidak akan menciptakan surga, neraka, matahari, dan bulan.”

Pernyataan ini adalah kunci dari segala kunci. Nabi Muhammad SAW bukan sekadar nabi terakhir, melainkan sebab utama penciptaan alam semesta. Ia adalah “Cinta Primordial” (Al-Habib Al-Azali) yang karenanya segala sesuatu diwujudkan. Jibril, surga, neraka, dan seluruh kosmos adalah turunan dari rahmat dan cinta yang diwujudkan melalui hakikat Muhammad (Al-Haqiqah Al-Muhammadiyah).

Kemudian, datanglah perintah yang langsung: “Wahai Jibril, bershalawatlah kamu kepadanya (Muhammad).”

Maka, tanpa ragu dan dengan penuh kecintaan, Jibril pun bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW selama sepuluh ribu tahun. Inilah yang dalam narasi tersebut disebut sebagai Sholawat Jibril, sholawat tertua yang pernah ada, yang lahir bahkan sebelum manusia pertama diciptakan. Sholawat ini adalah pengakuan seluruh alam semesta, yang diwakili oleh malaikat tertingginya, atas kemuliaan dan kedudukan Nabi Muhammad SAW.

Refleksi untuk Umat Kini: Makna yang Terkandung bagi Kita

Kisah ini, meski bersumber dari kitab klasik dan perlu dilihat dengan kacamata ilmu hadits, menghadirkan pelajaran mendalam yang bisa kita resapi:

  1. Talbiyah adalah Jiwa Ibadah. Setiap kali kita mengucapkan “Labbaik” dalam haji atau dalam doa, kita sedang mengulangi komitmen primordial kita untuk memenuhi panggilan Allah, sebagaimana Jibril pertama kali melakukannya.
  2. Ibadah adalah Proses Penyucian. Sebelum sampai pada maqam cinta, kita harus melalui tahapan menyucikan (Tasbih), mengagungkan (Takbir), dan memuji (Tahmid) Allah. Ini adalah jalan bertahap yang harus dilalui setiap muslim.
  3. Cinta kepada Nabi adalah Perintah Langsung dari Allah. Sholawat bukanlah tradisi atau budaya semata. Ia adalah perintah Ilahi yang disampaikan melalui Jibril. Bershalawat adalah mengikuti jejak langit dalam mengagungkan manusia teragung.
  4. Kita adalah Bagian dari Cerita Cinta yang Besar. Penciptaan kita, melalui rantai yang panjang, bersumber pada rahmat yang diwujudkan karena Nabi Muhammad. Menyadari ini seharusnya menumbuhkan cinta dan kedekatan yang mendalam kepada Baginda Nabi.

Dialog antara Jibril dan Muhammad SAW ini mengajarkan bahwa segala sesuatu bermula dari cinta dan diakhiri dengan cinta. Talbiyah adalah suara jiwa yang rindu memenuhi panggilan Cinta. Sholawat adalah napas makhluk yang memuji sang Kekasih Allah. Dan di tengah-tengah segala bentuk ibadah kita, semoga kita selalu ingat bahwa kita adalah bagian dari sebuah drama kosmik yang agung, di mana cinta Allah kepada Muhammad adalah plot utamanya.

Wallahu a’lam bissawab.

Tulisan ini di sarikan dari pengajian kitab Hikayah di ruang guru MTsN 4 Jombang, di asuh oleh Bpk H. Moh. Yazid, pertemuan ke 4

Authors

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *