Kartu Kuning Sholat Dzuhur: Merajut Karakter Melalui Ibadah Bermakna di MTsN 4 Jombang

by | Nov 7, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh: Sulthon Sulaiman, M.Pd.

Setiap hari pukul 13.00 WIB, terjadi sebuah transformasi spiritual yang memesona di MTsN 4 Jombang. Ratusan siswa bergerak menuju masjid dengan kesadaran penuh, bukan karena paksaan, tetapi karena panggilan hati yang telah terbentuk melalui pembiasaan. Inilah wajah pendidikan karakter kami yang hidup dan bernapas.

00b9dc43 0289 4fb8 ac3f 7008861c1b98
Lebih dari Sekadar Kartu Kuning: Simbol Komitmen Kolektif

Kartu kuning yang menjadi ciri khas program ini bukanlah sekadar alat absensi. Ia adalah simbol nyata dari komitmen kolektif seluruh warga madrasah dalam membangun karakter religius. Setiap lembar kartu yang dibagikan usai sholat berjamaah merepresentasikan sebuah perjalanan spiritual yang dilakukan dengan kesadaran penuh.

Yang lebih mengagumkan adalah proses di balik kartu kuning tersebut. Para guru dengan sukarela bergiliran menjadi imam sholat, memberikan teladan langsung bahwa kepemimpinan spiritual harus dijalani, bukan hanya diajarkan. Inilah wujud kerjasama antar pendidik dalam menanamkan nilai-nilai keteladanan.

Ekosistem Pendidikan Karakter yang Terintegrasi

Program ini telah berkembang menjadi sebuah ekosistem pendidikan karakter yang terintegrasi dengan indah:

  • Sebelum Sholat
    Para guru sudah menunggu di tempat wudhu,membimbing dengan sabar, mengoreksi dengan lembut jika ada yang keliru. Tidak ada bentakan, yang ada adalah bimbingan penuh kasih. Inilah wujud saling menghargai proses belajar setiap anak.
  • Saat Sholat
    Seluruh siswa dan guru bersatu dalam shaf yang rapat,tidak membedakan status, tidak memandang latar. Semua sama di hadapan Allah. Inilah pelajaran nyata tentang saling menghormati dan persamaan derajat sebagai hamba.
  • Setelah Sholat
    Pembagian kartu kuning dilakukan dengan sistem yang telah dipahami bersama.Tidak ada yang curang, tidak ada yang berusaha mendapatkan kartu tanpa melalui proses yang benar. Inilah cerminan kejujuran yang telah menjadi budaya.
ca4b085f 9a02 4db5 bd56 24913465997c
Momen Penyerahan Kartu: Simfoni Kedisiplinan yang Mengharukan

Ada satu momen yang begitu menyentuh hati dalam ritual siang ini—saat para siswa dengan penuh kesadaran menyerahkan kartu kuning mereka kepada para ibu guru yang telah setia menunggu di sepanjang teras madrasah.

Bayangkan pemandangan ini: puluhan ibu guru duduk rapi di kursi yang tersusun rapi sepanjang koridor madrasah. Di tangan mereka, tergeletak buku absensi yang akan diisi dengan penuh perhatian. Wajah-wajah mereka berseri, menebar senyum penuh makna kepada setiap siswa yang menghampiri.

Satu per satu, siswa datang dengan hormat menyerahkan kartu kuning mereka. “Silakan, Nak,” sambut para guru dengan lembut. “Alhamdulillah, hari ini kamu sudah sholat berjamaah.” Kalimat sederhana itu mengandung kekuatan doa dan apresiasi yang mendalam.

Proses penyerahan ini bukan sekadar transaksi administratif. Ini adalah komunikasi hati antara guru dan siswa. Setiap kartu yang berpindah tangan adalah simbol telah terlaksananya sebuah kewajiban dengan baik. Setiap tatapan mata yang bertemu adalah bentuk penghargaan atas kesadaran yang tumbuh dari dalam diri.

Para ibu guru dengan telaten mencatat setiap nama, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat. Mereka tidak sekadar menerima kartu, tetapi juga memantau kondisi siswa. “Kok wajahmu pucat, Nak? Apakah kurang enak badan?” atau “Hari ini kamu datang lebih awal, hebat!”—kata-kata perhatian seperti ini yang membuat program ini begitu manusiawi.

Nilai-Nilai Karakter yang Terbentuk Melalui Konsistensi
  • Tanggung Jawab sebagai Seorang Muslim
    Program ini menjadi sarana konkret bagi siswa untuk memahami dan mempraktikkan tanggung jawabnya sebagai muslim.Bukan sekadar kewajiban individual, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang saling mengingatkan dalam kebaikan.
  • Disiplin Waktu yang Menjadi Gaya Hidup
    Ketika bel berbunyi,seluruh aktivitas belajar berhenti. Semua bergerak menuju masjid dengan tertib. Konsistensi inilah yang menumbuhkan disiplin dalam diri siswa. Mereka belajar bahwa ketepatan waktu dalam ibadah adalah cerminan kedisiplinan hidup.
  • Trust System yang Membangun Karakter
    Sistem ini dibangun atas dasarsaling percaya. Kami percaya siswa akan datang dengan kesadaran, dan siswa percaya bahwa guru akan membimbing dengan baik. Trust inilah yang menjadi fondasi hubungan edukatif yang sehat di madrasah kami.
Dampak yang Terlihat dalam Keseharian

Yang paling membanggakan adalah transformasi yang terjadi dalam diri siswa. Seorang anak yang dulunya sering “bolos” sholat berjamaah, kini justru menjadi yang paling awal datang ke masjid. Seorang siswa yang dulu malu berwudhu dengan benar, kini dengan percaya diri mempraktikkan tata cara wudhu yang sempurna.

Ini bukan tentang mengontrol, tetapi tentang membangun kesadaran,” begitu prinsip yang kami pegang teguh. Kartu kuning hanyalah alat, yang terpenting adalah makna di baliknya.

Refleksi Kepemimpinan Pendidikan

Sebagai kepala madrasah, saya melihat program ini sebagai bukti bahwa pendidikan karakter yang efektif harus:

  1. Konsisten – Dilakukan setiap hari tanpa terkecuali
  2. Terintegrasi – Menyatu dengan aktivitas sehari-hari
  3. Bermakna – Memiliki nilai spiritual yang dalam
  4. Melibatkan – Semua pihak berperan aktif
  5. Memanusiakan – Menghargai setiap proses belajar

Dari Ritual Menuju Makna

Setiap siang, ketika melihat barisan siswa dengan kartu kuning di tangan, saya yakin bahwa kami tidak sekadar melaksanakan program. Kami sedang menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi fondasi karakter mereka di masa depan.

Kartu kuning itu akan lama terlupakan, tetapi nilai disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan kerjasama yang terbentuk melalui proses ini akan melekat sepanjang hidup mereka. Inilah hakikat pendidikan karakter sejati: bukan tentang selembar kertas, tetapi tentang makna yang terkandung dalam setiap proses perjalanan spiritual menuju kedewasaan.

Di MTsN 4 Jombang, kami tidak hanya mencetak generasi pandai, tetapi membentuk pribadi yang utuh: cerdas spiritual, emosional, dan sosial. Dan semua itu dimulai dari kesadaran bahwa sholat berjamaah bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa yang harus dipenuhi dengan penuh cinta dan kesadaran.

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *