Jombang — Setelah upacara bendera yang berlangsung khidmat di halaman Kampus 3 MTsN 4 Jombang pada Senin, 10 November 2025, suasana lapangan tiba-tiba berubah total. Tiang bendera masih tegak berdiri dengan gagah, namun area sekitarnya disulap menjadi arena Clasmeeting Parade Teatrikal “Pidato Bung Tomo”, sebuah ajang kreatif dan heroik yang menghidupkan kembali semangat juang para pahlawan.
Lapangan yang sebelumnya penuh dengan barisan peserta upacara kini berubah menjadi panggung kebangsaan, tempat setiap kelas menampilkan kader terbaik mereka untuk berperan sebagai Bung Tomo, sang orator legendaris yang mengobarkan semangat pertempuran 10 November di Surabaya.

Dengan mengenakan pakaian khas pejuang — kemeja safari, kopiah hitam, dan sorot mata berapi-api — para siswa naik ke podium satu per satu. Mikrofon di genggaman mereka seolah menjadi “Bambu Runcing” zaman modern, yang menyampaikan gelora perjuangan lewat kata-kata.
“Allahu Akbar! Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
Suara lantang dari podium menggema, menirukan pekikan Bung Tomo yang dulu membakar semangat arek-arek Suroboyo.
Ribuan siswa yang memenuhi halaman madrasah bertepuk tangan riuh. Sekitar 1.500 siswa dan 140 guru menyatu dalam suasana haru dan bangga. Sorak-sorai dan yel-yel perjuangan mengiringi setiap penampilan. Dari podium, muncul keberanian yang luar biasa — tidak ada rasa canggung, tidak ada keraguan. Yang ada hanyalah semangat nasionalisme yang menyala dan keberanian mengekspresikan jiwa patriotik.

Para guru yang ditunjuk sebagai dewan juri dengan seksama memperhatikan tiap peserta: intonasi suara, ekspresi, penghayatan peran, hingga semangat yang terpancar dari sorot mata. Semua menjadi tolok ukur dalam menentukan tiga pemenang terbaik dari kategori putra dan tiga dari kategori putri.
🏅 Kategori Putra:
- Juara 1: M. As’ad Arrohman (VIII E)
- Juara 2: M. Ilham az-Zamzami (IX G)
- Juara 3: M. Zidan Juansyah Afif (VIII H)
🏅 Kategori Putri:
- Juara 1: Alimatul Dzakiyah (VIII i)
- Juara 2: ILufa Nilaufiah Haifa (IX i
- Juara 3: Berlian Kamilatul Husna (VII N)
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 10.00 WIB ini bukan sekadar lomba antar kelas, melainkan ruang ekspresi generasi muda madrasah untuk meneladani jiwa kepemimpinan, keberanian, dan nasionalisme Bung Tomo. Melalui kegiatan kreatif semacam ini, nilai-nilai kepahlawanan tidak hanya dipelajari, tetapi dihidupkan kembali secara nyata di atas panggung.

Kepala MTsN 4 Jombang, Dr. Sulthon Sulaiman, M.Pd.I, menyampaikan apresiasi tinggi atas kreativitas para siswa dan dedikasi guru dalam menyukseskan kegiatan ini.
“Bung Tomo mengajarkan kita bahwa perjuangan bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan semangat, suara, dan keberanian menegakkan kebenaran. Hari ini anak-anak kita membuktikan bahwa api perjuangan itu belum padam,” tutur beliau dengan bangga.
Setelah parade berakhir dan sorak-sorai tepuk tangan mereda, seluruh siswa dan guru bergeser menuju Masjid Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar. Di tempat yang penuh berkah ini, mereka bersama-sama melangitkan doa bagi arwah para pahlawan dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.
Suasana berubah menjadi hening dan khusyuk. Ratusan tangan kecil dan besar terangkat bersamaan, memanjatkan rasa syukur dan permohonan agar bangsa ini senantiasa dijaga dari segala perpecahan. Setelah doa bersama, rombongan melanjutkan prosesi tabur bunga di makam KH. Bisri Syansuri, ulama besar dan pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar — pahlawan sejati dalam dunia pendidikan dan perjuangan umat.
Kegiatan ditutup dengan shalat dzuhur berjamaah, menyempurnakan hari penuh makna ini dengan refleksi spiritual.
Peringatan Hari Pahlawan ke-78 di MTsN 4 Jombang tahun ini menjadi bukti bahwa semangat kepahlawanan tidak pernah lekang oleh waktu. Dari upacara bendera yang khidmat, parade teatrikal yang heroik, hingga doa yang melangit, semuanya menjadi rangkaian perjalanan batin untuk meneguhkan tekad: bahwa generasi muda madrasah siap melanjutkan perjuangan para pahlawan — dengan ilmu, akhlak, dan karya nyata.
“Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan.”
Dari Jombang, semangat itu kembali menyala — dari madrasah, untuk Indonesia.
Solomon






0 Comments