Gigitlah Sunnah dengan Geraham: Melawan Gelombang Modernitas dengan Keteguhan Hati

by | Nov 9, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh: Sulthon Sulaiman

Denanyar – Pagi itu, ruang guru MTsN 4 Denanyar Jombang berubah menjadi ruang yang tak biasa. Udara Minggu pukul 07.00 WIB biasanya masih sepi, namun pagi itu justru dipenuhi oleh kekhusyukan yang jarang ditemui. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian cepat, sekelompok pendidik justru memilih untuk merapat, duduk melingkar, menyelami samudera ilmu yang tak pernah kering.

Pengajian Ahad Pagi, sebuah tradisi yang telah mengakar, kembali menghadirkan nuansa berbeda. Kali ini, hadir seorang kyai kharismatik, KH. Zaenal Arifin Abu Bakar, dengan kitab kuning Majālis al-Tsāniyah di tangannya. Bukan sekadar membaca, tetapi menghidupkan kembali kata demi kata yang tertulis ratusan tahun silam.

f8859834 08b3 4253 a996 08f5f66b7a13
Nasihat Perpisahan yang Abadi

Dalam suasana yang syahdu, KH. Zaenal Arifin membacakan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Najih al-‘Irbadh bin Sariyah. Sebuah nasihat Nabi Muhammad ﷺ yang begitu dalam, sampai-sampai para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan.”

Bayangkan suasana saat itu. Hati bergetar, air mata menetes. Rasulullah ﷺ tahu bahwa waktu beliau di dunia tidak lama lagi. Wasiat terakhirnya bukan tentang harta, bukan tentang jabatan, tetapi tentang prinsip-prinsip yang akan menjaga umatnya dari kesesatan.

Wasiat itu sederhana namun mendalam: “Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin sekalipun ia seorang budak. Siapa di antara kalian yang hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan. Maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan geraham kalian. Dan jauhilah perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap bid’ah itu adalah sesat.”

Empat Pilar Penuntun Zaman Edan

KH. Zaenal Arifin dengan cerdas memetakan empat pesan utama dari hadis ini, yang tetap relevan dari zaman sahabat hingga era digital seperti sekarang.

  1. Takwa: Kompas dalam Kegelapan

Di era yang serba instan dan penuh godaan, takwa bagaikan kompas di tengah lautan gelap. Bukan sekadar takut, melainkan kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi. “Takwa itu seperti helm bagi pengendara motor,” ujar KH. Zaenal dengan analogi yang mudah dicerna. “Kita tidak hanya memakainya saat ada polisi, tetapi karena sadar akan keselamatan.”

Dalam konteks pendidikan, takwa berarti mengajar bukan sekadar memindahkan ilmu, tetapi menanamkan nilai. Belajar bukan untuk mengejar nilai semata, melainkan untuk membentuk karakter.

  1. Ketaatan yang Cerdas

Nabi ﷺ menyebut “mendengar dan taat” bahkan kepada pemimpin yang berstatus budak. Ini pelajaran penting tentang substansi, bukan formalitas. Ketaatan bukan berarti membabi buta, tetapi tunduk pada sistem selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Di kelas, siswa taat kepada guru bukan karena takut hukuman, tetapi karena menghargai ilmu. Di masyarakat, kita taat pada pemimpin bukan karena takut sanksi, tetapi karena menjaga keharmonisan bersama.

  1. Berpegang Erat pada Sunnah

“Gigitlah dengan geraham kalian!” Begitu kuatnya perintah Nabi ini. Di era informasi yang overload, di mana berbagai paham berseliweran, berpegang pada sunnah bagaikan memegang tali yang kuat saat tersesat di hutan belantara.

“Sunnah itu seperti GPS di tengah jalan yang penuh simpang siur,” jelas KH. Zaenal. “Meski banyak jalan pintas yang menjanjikan, tetap ikuti petunjuk yang sudah teruji kebenarannya.”

  1. Waspada terhadap Bid’ah

Peringatan Nabi tentang bid’ah sangat tegas. Dalam ibadah mahdhah, tidak ada ruang untuk kreativitas yang melampaui batas. “Shalat kita sudah ditentukan caranya, puasa sudah diatur waktunya,” tegas KH. Zaenal. “Jangan kita tambahi dengan ritual-ritual yang tidak pernah dicontohkan.”

Ini pelajaran berharga tentang disiplin dan konsistensi. Ibadah bukan ajang eksperimen, melainkan pengabdian yang tunduk pada aturan.

Relevansi di Zaman Now

Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan Rasulullah ﷺ justru semakin aktual. Ketika hoaks dan ujaran kebencian mudah menyebar, umat Islam dituntut untuk bijak memilah informasi. Ketika individualisme kian menjadi, kita diingatkan untuk tetap taat pada pemimpin selama dalam kebenaran.

KH. Zaenal menegaskan, “Taat pada guru dan pemimpin bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kedewasaan iman. Dan menjaga sunnah Nabi di zaman penuh distraksi adalah jihad zaman modern.”

Pernyataan ini menyentak kesadaran. Selama ini mungkin kita memandang jihad sebagai perang fisik, padahal mempertahankan akidah di tengah gempuran budaya asing yang tidak sejalan dengan Islam adalah jihad yang tak kalah beratnya.

Madrasah: Oasis di Gurun Spiritual

MTsN 4 Denanyar, melalui Pengajian Ahad Pagi ini, membuktikan bahwa madrasah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan oasis di gurun spiritual. Tempat di mana nilai-nilai tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan.

Ruang guru yang biasanya dipenuhi urusan administratif, pagi itu berubah menjadi majelis ilmu. Aroma kopi hangat bercampur dengan wangi kitab kuning. Para guru yang biasanya sibuk dengan rencana pembelajaran, kali ini duduk tenang, menyelami samudera hikmah.

Beberapa guru terlihat menunduk, air mata menetes mendengar penjelasan KH. Zaenal. Mungkin mereka teringat akan beratnya tanggung jawab sebagai pendidik. Mungkin juga mereka tersentuh karena merasa selama ini terlalu fokus pada hal-hal teknis, melupakan esensi pendidikan yang sebenarnya.


Gigitlah dengan Geraham

Sebelum mengakhiri pengajian, KH. Zaenal Arifin berpesan, “Gigitlah sunnah Nabi dengan gerahammu, jangan lepaskan. Karena di sana ada cahaya keselamatan dunia dan akhirat.”

Pukul 08.15 WIB, pengajian ditutup dengan doa. Namun, pesannya terus terbawa dalam langkah setiap guru yang hadir. Mereka kembali ke kelas bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi sebagai penjaga nilai.

Di era yang serba tidak pasti, di dunia yang kian kompleks, pesan sederhana Nabi ﷺ justru menjadi penuntun yang paling jelas. Takwa, nasihat, dan ketaatan—tiga pilar yang akan menjaga kita dari terombang-ambing gelombang zaman.

MTsN 4 Denanyar telah membuktikan bahwa tradisi keilmuan Islam tidak pernah usang. Ia seperti mata air yang selalu jernih, siap menghilangkan dahaga siapa pun yang mendatanginya. Di tangan para guru yang takwa dan siswa yang berakhlak, masa depan pendidikan Indonesia masih menyimpan harapan.

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *