Oleh, Sulthon Sulaiman
Pukul 06.00 pagi. Matahari belum terik, udara masih sejuk. Tapi, di gerbang MTsN 4 Jombang, sudah ada denyut kehidupan yang berbeda. Bukan hanya lalu lintas siswa yang bergegas, tetapi sebuah pemandangan yang menyentuh hati. Berjejer para bapak dan ibu guru dengan senyum tulus, siap menyambut setiap siswa yang datang. Dan yang terjadi selanjutnya bukan sekadar salam biasa. Sebelum melangkah masuk, para siswa dengan khidmat menunduk, meraih tangan guru mereka, menciumnya, atau bersalaman hangat disertai ucapan, “Selamat pagi, Pak/Bu.” Inilah tradisi musofahah atau sungkem yang telah menjadi jiwa pagi di madrasah ini—sebuah lukisan akhlak mulia yang hidup dan bernafas.

Dalam hiruk-pikuk dunia yang kian individualistik dan digital, tradisi bersalaman dan sungkem ini bagai oase di padang pasir. Ia mengingatkan kita pada konsep adab (etika) yang menjadi fondasi dalam menuntut ilmu. Kitab Ta’lim al-Muta’allim, sebuah magnum opus tentang adab penuntut ilmu, menegaskan bahwa menghormati guru adalah kunci pembuka ilmu. Guru bukan sekadar pengantar kurikulum, tetapi perantara ilmu yang memiliki martabat tinggi. Bersalaman dan sungkem adalah manifestasi fisik dari penghormatan itu—sebuah bahasa tubuh yang berkata, “Saya siap menerima ilmu dengan hati yang rendah hati.”
Sungkem dan Salaman: Bukan Sekadar Ritual, Tapi Ibadah
Apa yang terjadi di gerbang MTsN 4 Jombang adalah penerapan nyata dari prinsip al-adab qabl al-‘ilm (adab sebelum ilmu). Sebelum otak diisi dengan rumus dan teori, hati lebih dulu dilunakkan dengan kerendahan hati. Sebelum masuk ke ruang kelas, karakter lebih dulu dibentuk di gerbang madrasah.
Dalam konteks adab al-‘alim wa al-muta’allim (adab bagi guru dan murid), tradisi ini memiliki makna ganda yang dalam:
- Bagi Murid : Sungkem adalah bentuk tawadhu’ (rendah hati). Dengan menundukkan badan dan mencium tangan guru, mereka mempraktikkan penghormatan kepada sumber ilmu. Ini adalah pengingat bahwa ilmu bukanlah hak, tetapi anugerah yang harus diraih dengan adab. Sebagaimana pesan dalam Ta’lim al-Muta’allim, memuliakan guru berarti memuliakan ilmu itu sendiri. Gerakan sungkem itu adalah doa tanpa kata, sebuah permohonan agar ilmu yang diterima menjadi berkah dan bermanfaat.
- Bagi Guru : Berdiri di gerbang sejak pagi buta adalah bentuk tanggung jawab dan kasih sayang. Ini adalah wujud dari konsep ri’ayah (pengasuhan) seorang guru terhadap muridnya. Senyum dan sambutan hangat mereka adalah energi positif yang mengawali hari belajar. Guru tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi sebagai orang tua kedua yang siap membimbing dengan hati.

Menghidupkan Konsep “Sekolah Ramah Anak” dalam Balutan Akhlak
Tradisi ini juga selaras sempurna dengan visi Sekolah Ramah Anak. Sekolah ramah anak bukan berarti bebas aturan dan tanpa hierarki. Justru, ia adalah lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter positif secara menyeluruh. Kehangatan sambutan guru, diikuti dengan penghormatan tulus dari siswa, menciptakan ekosistem pendidikan yang penuh dengan positive reinforcement.
Rasa hormat yang dibangun dari tradisi ini melahirkan rasa aman psikologis. Siswa merasa dihargai dan dicintai, sehingga mereka lebih percaya diri untuk bertanya, berpendapat, dan berkreasi. Ini adalah fondasi dari Pendidikan Karakter yang sesungguhnya—di mana nilai-nilai luhur seperti hormat, sopan santun, dan empati tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi dihidupkan dalam keseharian.
Di era di mana batas antara guru dan murid kadang kabur oleh media sosial, tradisi sungkem dan salaman ini menjaga marwah hubungan yang proporsional. Ia mengajarkan bahwa di balik layar gadget dan tren kekinian, ada nilai kesantunan yang tak lekang waktu. Ini adalah bentuk “kekinian” yang sesungguhnya—tetap relevan dan justru sangat dibutuhkan di zaman now.

Gerbang yang Menjadi Simbol
Gerbang MTsN 4 Jombang telah bertransformasi. Ia bukan lagi sekadar pembatas fisik, tetapi menjadi simbol transisi. Dari dunia luar menuju dunia ilmu. Dari kesibukan personal menuju kebersamaan komunal. Dari sikap biasa menuju sikap hormat. Setiap pagi, gerbang ini menjadi kelas pertama, di mana pelajaran terpenting—yaitu pelajaran tentang adab—diajarkan dan dipraktikkan secara langsung.

Melestarikan Warisan yang Memberkahi
Tradisi sungkem dan salaman di MTsN 4 Jombang adalah warisan budaya dan agama yang patut dilestarikan. Ia adalah investasi karakter yang nilainya jauh lebih berharga daripada sekadar nilai akademik. Dalam genggaman tangan yang bersalaman dan dalam sungkem yang khidmat, tersimpan doa, harapan, dan komitmen untuk membangun peradaban yang lebih beradab.
Mari kita renungkan: andai setiap lembaga pendidikan memiliki “gerbang berkah” seperti ini, di mana adab menjadi pengantar ilmu, niscaya kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga santun secara emosional dan spiritual. Sebab, ilmu tanpa adab bagai api tanpa cahaya—membara tapi tidak menerangi. Dan MTsN 4 Jombang, dengan kesederhanaannya, telah menjadi pelita kecil yang menerangi jalan itu.






0 Comments