Gema Ilahi di Bumi Santri: Khotmil Qur’an Serentak MTsN 4 Jombang dan Napas Spiritualitas yang Menyala Kembali

by | Oct 20, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh : Sulthon Sulaiman

Jombang bukan sekadar nama di peta. Ia adalah ruang ingatan yang di dalamnya mengalir darah para kiai, denyut pesantren, dan napas perjuangan. Pada 20 Oktober 2025, MTsN 4 Jombang menorehkan lagi satu episode kesalehan kolektif yang menggetarkan: 57 majelis Khotmil Qur’an bergema serentak, menyatu dengan 1.672 majelis lain di seantero Jombang. Ini bukan sekadar acara. Ini adalah ritus kebangkitan ruh.

QotmilDoa4
Kelas-kelas yang Berubah menjadi Mihrab

Sejak pukul 08.00 WIB, ruang-ruang kelas yang biasa menjadi tempat diskusi ilmu duniawi berubah menjadi majelis-majelis penuh barakah. Dari setiap sudut, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalun syahdu, menyatukan nafas para santri, guru, dan karyawan. Tidak ada sekat. Semua menjadi satu dalam ikatan kalam Ilahi.

Di ruang guru, suasana terasa lebih khidmat. Dipimpin oleh al-Hafidz Imam Rofi’i, para pendidik membentuk majelis khusus. Mereka membuka dengan tawasul dan Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada para muassis dan masyayikh Jombang — sebuah tradisi sanad keilmuan yang menjadi ruh Nahdlatul Ulama. Inilah cara warga Nahdliyin menyambung tali spiritual dengan para pendahulu, mengakui bahwa ilmu yang mereka terima adalah warisan yang harus dijaga.

Makna Filosofis Khotmil Qur’an dalam Tradisi NU

Bagi warga Nahdliyin, Khotmil Qur’an bukan sekadar membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Ia adalah proses ittishal bi al-qudwah — menyambung diri dengan teladan. Setiap kali khatam, seorang muslim diingatkan akan siklus hidup: mulai dari al-Fatihah yang penuh harap, melalui perjalanan panjang penuh hikmah, hingga kembali kepada-Nya dengan husnul khatimah.

Khotmil Qur’an massal seperti ini adalah manifestasi dari prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih — menjaga tradisi yang baik. Tradisi yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga sosial. Di sini, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan dalam kebersamaan. Sebagaimana pesan para kiai: “Al-Qur’an harus menjadi ruh al-hayah — jiwa kehidupan, bukan sekadar hiasan lemari.”

QotmilDoa3
Hari Santri Nasional 2025: Mengaktualisasikan Semangat Resolusi Jihad

Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini memiliki resonansi yang dalam. Di usia ke-80 Resolusi Jihad 1945, semangat itu dimaknai ulang bukan sekadar perlawanan fisik, tetapi perlawanan terhadap kebodohan, intoleransi, dan dekadensi moral.

Kepala MTsN 4 Jombang menegaskan: “Santri sejati bukan hanya yang fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga yang mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan.” Ini adalah esensi dari santri Qur’ani — mereka yang mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam setiap langkah, dari hal terkecil hingga keputusan besar membangun peradaban.

Jombang ke-115: Dari Kota Santri Menuju Peradaban Qur’ani

Dalam konteks Hari Jadi ke-115 Kabupaten Jombang, Khotmil Qur’an massal ini adalah doa kolektif yang diwujudkan dalam action. Jombang dengan identitas sebagai “Kota Santri” tidak boleh berhenti pada label, tetapi harus menjadi living reality. Semboyan “Jombang Berkarakter dan Berperadaban Qur’ani” menemukan bentuk nyatanya dalam 1.672 majelis yang menyala serentak.

Ini adalah ikhtiar menjadikan Jombang sebagai kota yang tidak hanya religius dalam simbol, tetapi juga berilmu dalam action, dan berakhlakul karimah dalam interaksi sosial. Sebagaimana warisan para ulama Jombang — dari Kiai Hasyim Asy’ari hingga kiai-kiai pesantren lain — yang menjadikan ilmu dan akhlak sebagai pilar peradaban.

QotmilDoa1
Getar Spiritual yang Menyambung ke Masa Depan

Hingga pukul 10.00 WIB, getar spiritual itu terus mengalir. Doa khatmil Qur’an yang dibaca bersama menggema penuh harap — harapan agar Jombang tetap menjadi mercusuar ilmu dan akhlak, harapan agar santri masa kini mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Hari Santri 2025 di MTsN 4 Jombang bukanlah akhir. Ia adalah titik tolak. Sebagaimana Khotmil Qur’an yang selalu berputar dari Al-Fatihah kembali ke Al-Fatihah, perjuangan santri pun demikian — sebuah siklus eternal yang terus bergerak, menyempurna, dan menebar rahmat.

Inilah napas panjang spiritualitas yang menyala kembali. Dalam setiap ayat yang dilantunkan, tersimpan janji: selama masih ada majelis yang menghidupkan Al-Qur’an, selama itu pula cahaya Ilahi akan terus menyinari bumi santri. Dan Jombang, dengan 1.672 majelisnya hari itu, telah membuktikan: tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan, selama keduanya disinari oleh cahaya Al-Qur’an. Gema Ilahi telah bergema, kini saatnya tindakan nyata mengikuti

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *