Jombang — Udara pagi yang sejuk di MTsN 4 Jombang pada Rabu (5/11) pukul 06.20 WIB terasa begitu hidup dan menyenangkan. Di setiap gerbang madrasah, tampak deretan bapak dan ibu guru berdiri rapi, menyambut para siswa dengan senyum hangat, sapa ramah, dan salam penuh kasih. Aroma wangi semangat dan keteladanan menyeruak, menghadirkan suasana yang menenangkan sekaligus memotivasi untuk memulai hari belajar dengan hati gembira.
Tak ada satu pun siswa yang luput dari sambutan — semuanya mendapatkan sapaan hangat tanpa terkecuali. Inilah bagian dari tradisi positif MTsN 4 Jombang yang terus digelorakan setiap pagi: menanamkan pendidikan karakter melalui keteladanan dan kasih sayang sejak langkah pertama siswa memasuki gerbang madrasah.

Di salah satu sudut halaman, tampak Pak Supriyadi, guru Penjas Orkes, sibuk menyiapkan meja dan buku besar. Beliau bertugas mendata siswa yang belum tertib — mulai dari yang tidak berseragam lengkap, tidak bersepatu, lupa membawa buku, berambut panjang, berkuku panjang, hingga yang membawa barang berbahaya seperti korek api atau rokok. Semua dicatat dengan rapi untuk mendapatkan pembinaan lanjutan. Dengan cara ini, MTsN 4 Jombang tidak hanya menegakkan disiplin, tetapi juga mendidik dengan pendekatan yang humanis dan mendukung tumbuh kembang positif siswa.
Tak jauh dari situ, tim UKS dan BK turut menyambut siswa setelah melewati barisan guru. Pak Ipunk dari UKS dan Pak Husen dari BK menyiapkan peralatan sederhana: pemotong kuku dan alat cukur rambut. Bagi siswa yang rambutnya perlu dirapikan, penanganan diserahkan kepada Pak Ata Muzakki, pembina kesiswaan yang dikenal piawai mencukur rambut siswa dengan gaya khas “bapak pembina berjiwa muda”. Semua dilakukan dengan suasana bersahabat dan mendidik, sejalan dengan prinsip Madrasah Ramah Anak (SRA) yang diusung madrasah ini — yakni pembinaan dilakukan tanpa kekerasan, tanpa amarah, dan penuh rasa sayang.
Setelah melewati tahapan penyambutan dan pembinaan pagi, para siswa menuju kelas masing-masing. Di depan kelas, guru pengampu jam pertama sudah siap memastikan petugas piket kelas melaksanakan tugasnya: menyiapkan ruang belajar agar bersih, rapi, dan nyaman. Sementara siswa lain berbaris rapi di depan kelas untuk kegiatan doa pagi, absen, dan sungkem kepada guru — sebuah tradisi khas MTsN 4 Jombang yang menanamkan nilai tawadhu’, hormat kepada guru, serta syukur untuk memulai hari dengan hati bersih.
Kegiatan pembelajaran pun dimulai dengan semangat baru. Tiap kelas memiliki yel-yel penyemangat khas yang dikumandangkan sebelum pelajaran dimulai, menciptakan suasana ceria dan penuh motivasi.
Menjelang bel jam ketiga, suasana madrasah kembali terasa religius dan teduh. Dua kelas yang telah terjadwal melaksanakan shalat dhuha berjamaah di masjid madrasah. Kegiatan ini menjadi bagian dari rutinitas pembiasaan spiritual yang dilakukan setiap hari, untuk menanamkan nilai-nilai religius sekaligus melatih keikhlasan dan kedisiplinan ibadah sejak dini.
Pemandangan seperti inilah yang menjadi denyut nadi kehidupan di MTsN 4 Jombang setiap pagi — sebuah madrasah yang hidup, ramah anak, dan berkarakter. Semua aktivitas sederhana itu menjadi bentuk nyata implementasi pendidikan karakter yang menyatu dalam keseharian siswa: disiplin, religius, peduli, sopan, dan bersemangat dalam belajar.
Melalui kegiatan rutin seperti ini, MTsN 4 Jombang terus menunjukkan komitmennya untuk menjadi Madrasah Ramah Anak yang mengedepankan kasih sayang, keteladanan, dan pembiasaan positif. Di bawah kepemimpinan Bapak Sulthon Sulaiman, M.Pd., madrasah ini terus menebarkan semangat perubahan menuju lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan membahagiakan bagi seluruh warganya.
— Tim Humas MTsN 4 Jombang






0 Comments