Oleh: Sulthon Sulaiman, Kepala MTsN 4 Jombang
Senin, 29 September 2025, kelas IX MTsN 4 Jombang tampak hidup dengan semangat yang berbeda. Pada hari itu, pelajaran Bahasa Arab tidak hanya menjadi rutinitas membaca teks atau menghafal kosakata, melainkan berubah menjadi sebuah pengalaman belajar yang kreatif, kolaboratif, dan penuh makna. Tema yang diangkat sangat istimewa: الحفْلُ بِمَوْلِدِ الرَّسُولِ – peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.
Kami meyakini, pembelajaran Bahasa Arab tidak boleh berhenti pada aspek linguistik semata. Lebih dari itu, ia harus menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan nilai-nilai keislaman, sejarah, dan akhlak mulia Rasulullah ﷺ. Karena itu, kami menggunakan pendekatan PJBL (Project Based Learning), sebuah metode yang menuntun siswa belajar melalui proyek nyata yang relevan dengan kehidupan mereka.
Dari Teks Menuju Refleksi Kehidupan
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menggelitik rasa ingin tahu siswa: Mengapa kelahiran Nabi disebut rahmat bagi seluruh alam? dan Bagaimana kesederhanaan Nabi sejak lahir bisa menjadi teladan kita? Pertanyaan ini membuat mereka tidak sekadar membaca teks, tetapi juga merefleksikan pesan yang terkandung di dalamnya.
Siswa kemudian membaca teks Bahasa Arab tentang peringatan Maulid Nabi. Mereka mencatat kosakata baru, mendiskusikan artinya, dan menghubungkannya dengan perjalanan hidup Rasulullah ﷺ. Proses ini mengajarkan mereka bahwa setiap kata dalam Bahasa Arab bukan sekadar simbol bahasa, tetapi pintu masuk menuju pemahaman sejarah dan keteladanan.
Proyek Digital Sejarah Nabi
Yang menarik, siswa tidak hanya berhenti pada pemahaman teks. Mereka ditantang untuk membuat presentasi digital tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ. Dalam kelompok kecil, mereka berbagi peran: ada yang mencari kosakata, menerjemahkan teks, menyusun alur sejarah, dan mendesain slide.
Isi presentasi mereka mencakup fase-fase penting dalam kehidupan Rasulullah ﷺ: kelahiran di Tahun Gajah, masa kecil yang penuh kesederhanaan, remaja dalam perdagangan, pernikahan, pengangkatan sebagai Nabi dan Rasul, dakwah di Makkah, hijrah ke Madinah, hingga wafatnya beliau.
Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Presentasi ini tidak hanya melatih keterampilan Bahasa Arab, tetapi juga menumbuhkan percaya diri, kemampuan komunikasi, serta kreativitas dalam memanfaatkan teknologi. Bagi generasi Z yang akrab dengan dunia digital, metode ini terasa relevan, segar, dan menyenangkan.
Belajar Kolaborasi, Menumbuhkan Karakter
Metode PJBL juga melatih siswa untuk bekerja sama. Dalam kelompok, mereka belajar berbagi tugas, mendengarkan pendapat teman, dan menyatukan ide. Tidak jarang muncul perdebatan kecil, tetapi justru dari situlah mereka belajar menghargai perbedaan.
Sebagai guru, peran pendidik bergeser dari pusat informasi menjadi fasilitator. Guru mendampingi, mengarahkan, dan memotivasi agar setiap siswa berkontribusi. Hasilnya, pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan dialogis dan interaktif.
Menumbuhkan Cinta Rasul
Lebih dari sekadar tugas sekolah, proyek ini membawa dampak yang jauh lebih dalam. Dengan menelusuri perjalanan hidup Rasulullah ﷺ, siswa semakin memahami betapa agungnya sosok beliau. Mereka belajar kesabaran dari masa kecil Nabi, kejujuran dari masa mudanya sebagai pedagang, keteguhan dari masa dakwah di Makkah, hingga kepemimpinan bijak di Madinah.
Di akhir pembelajaran, siswa melakukan refleksi. Mereka menyadari bahwa belajar Bahasa Arab melalui tema Maulid Nabi bukan hanya tentang menambah kosakata atau memahami struktur kalimat, tetapi juga tentang menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan keinginan untuk meneladani akhlaknya.
Sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila dan PPRA
Apa yang kami lakukan di MTsN 4 Jombang ini sejalan dengan semangat Profil Pelajar Pancasila dan PPRA (Pelajar Rahmatan lil-‘Alamin). Siswa tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, serta mampu bekerja sama. Inilah pendidikan yang kami cita-citakan: pendidikan yang menyentuh akal sekaligus hati.
Hari itu, kelas Bahasa Arab benar-benar menjadi ruang hidup yang penuh inspirasi. Dari teks sederhana tentang Maulid Nabi, lahirlah diskusi, proyek digital, refleksi, dan semangat baru. Inilah wujud pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga menumbuhkan karakter dan kecintaan pada Rasulullah ﷺ.
Sebagai kepala madrasah, saya merasa bangga melihat kreativitas dan antusiasme para siswa. Saya percaya, pembelajaran berbasis proyek seperti ini akan membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, siap menghadapi tantangan zaman, dan tetap berpijak pada teladan agung Rasulullah ﷺ.






0 Comments