Jombang — Setiap pagi di MTsN 4 Jombang, ada pemandangan menarik dan penuh makna yang menjadi ciri khas madrasah ini. Sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai, seluruh siswa tampak berbaris rapi di depan kelas masing-masing. Dengan wajah ceria dan pakaian seragam yang rapi, mereka menunggu giliran untuk sungkem dan bersalaman dengan bapak dan ibu guru pengampu jam pertama sebelum akhirnya masuk ke ruang kelas.
Kegiatan sederhana ini telah menjadi habbit (kebiasaan baik) yang dijaga dan dijalankan dengan penuh kesadaran oleh seluruh warga madrasah. Tujuannya bukan sekadar menegakkan kedisiplinan, apalagi memberi sanksi, melainkan membangun karakter siswa yang tertib, rapi, bersih, berakhlak, dan siap belajar.
Sebelum barisan dibentuk, petugas piket kelas memastikan ruang belajar dalam kondisi terbaik — kelas bersih, meja tersusun rapi, ventilasi terbuka, dan administrasi kelas lengkap. Setelah semuanya siap, barulah para siswa diarahkan untuk membentuk barisan yang rapi. Dengan penuh hormat, mereka bersalaman satu per satu dengan guru sebagai bentuk penghormatan dan rasa cinta kepada pendidik, lalu masuk ke kelas dengan tertib.
Setelah seluruh siswa duduk di tempat masing-masing, kegiatan pagi dilanjutkan dengan doa bersama dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Inilah momen yang menenangkan sekaligus sakral — menghadirkan suasana kelas yang religius, damai, dan siap menjemput ilmu dengan hati bersih.
“Pernah ada yang bertanya, ‘Kok seperti anak TK, sih, harus baris dulu sebelum masuk kelas?’ Saya jawab dengan senyum,” tutur Bapak Sulthon Sulaiman, M.Pd., Kepala MTsN 4 Jombang.
“Bukan karena kami memperlakukan mereka seperti anak kecil, tetapi karena kami ingin memastikan setiap siswa betul-betul siap belajar — sehat, rapi, tertib, ceria, dan penuh semangat. Inilah bagian dari pendidikan karakter di madrasah kami,” ujarnya menegaskan.

Tradisi berbaris ini juga menjadi sarana guru untuk memantau kondisi anak-anak setiap pagi. Melalui interaksi singkat saat bersalaman, guru bisa melihat apakah ada siswa yang kurang sehat, tampak sedih, atau datang dengan wajah cemberut. Semua itu menjadi bahan perhatian dan pembinaan ringan yang dilakukan dengan pendekatan kasih sayang — sejalan dengan prinsip Madrasah Ramah Anak (SRA) yang diterapkan di MTsN 4 Jombang.
Lebih dari sekadar ritual, kegiatan ini menjadi strategi penguatan pendidikan karakter (PPK) yang sangat efektif. Siswa dilatih untuk disiplin dalam waktu, menghormati guru, menjaga kebersihan, serta membiasakan diri memulai hari dengan semangat positif. Nilai-nilai seperti religius, tanggung jawab, disiplin, dan sopan santun tertanam secara alami dalam keseharian mereka.
Dengan langkah-langkah kecil namun konsisten ini, MTsN 4 Jombang membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak harus diajarkan lewat ceramah panjang, melainkan dapat ditanamkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari dengan kesungguhan dan cinta.
“Di MTsN 4 Jombang, kami ingin memastikan bahwa setiap tindakan, setiap kegiatan, bahkan setiap langkah siswa di lingkungan madrasah, memiliki makna pendidikan. Kami ingin semua siswa merasa diperhatikan dan mendapatkan pelayanan terbaik selama berada di madrasah,” tutup Bapak Sulthon dengan penuh keyakinan.
Tradisi pagi ini bukan sekadar rutinitas, tetapi cermin filosofi pendidikan MTsN 4 Jombang — madrasah yang menumbuhkan karakter lewat keteladanan, menciptakan disiplin lewat kebersamaan, dan membangun generasi berakhlak lewat kasih sayang.
— solomon






0 Comments