Oleh: Sulthon Sulaiman
Setiap pagi, sekitar pukul 06.45 WIB, ada sebuah “Ritual” penting yang menjadi napas pendidikan karakter di MTsN 4 Jombang. Bukan sekadar baris-berbaris biasa, melainkan sebuah proses transformasi nilai-nilai luhur yang dilakukan dengan konsisten dan penuh makna.
Lebih dari Sekadar Baris Berbaris
Jika Anda berkunjung ke madrasah kami di pagi hari, Anda akan menyaksikan pemandangan yang mungkin mengingatkan pada masa sekolah dasar: para siswa berdiri rapi di depan kelas masing-masing, wajah berseri, seragam lengkap, menunggu giliran untuk bersalaman dan sungkem kepada guru. Bagi yang belum memahami esensinya, mungkin bertanya: “Mengapa siswa MTs harus dibariskan seperti anak TK?”
Pertanyaan itu wajar. Namun jawabannya terletak pada filosofi pendidikan yang kami anut: karakter dibangun melalui pembiasaan, bukan sekadar pengajaran.
Persiapan Fisik dan Mental Menuju Ruang Belajar
Proses ini dimulai bahkan sebelum barisan terbentuk. Petugas piket kelas telah menyiapkan ruang belajar: meja rapi, lantai bersih, ventilasi terbuka, dan perlengkapan belajar tertata. Ini melatih tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan.
Setelah ruang kelas siap, barulah siswa membentuk barisan rapi. Bukan barisan kaku alas upacara bendera, tetapi formasi yang tertib namun tetap manusiawi. Di sinilah momen penting terjadi: satu per satu siswa bersalaman dan sungkem kepada guru.
Sungkem—tradisi menghormati dengan menundukkan kepala—adalah simbol penghargaan kepada guru sebagai penerang ilmu. Dalam budaya Jawa yang kami lestarikan, ini adalah wujud tawadhu’ (kerendahan hati) dan pengakuan bahwa ilmu yang akan diperoleh hari ini adalah cahaya yang harus disambut dengan hati bersih.
Deteksi Dini dengan Mata Kasih Sayang
Bagi kami guru, malaman bersalaman ini adalah kesempatan emas untuk “membaca” kondisi siswa. Seorang guru yang peka dapat mendeteksi banyak hal dari jabatan tangan dan tatapan mata seorang siswa:
- Apakah genggamannya lemas? Mungkin ia kurang sehat.
- Apakah matanya menghindar? Mungkin ada masalah yang mengganggu pikirannya.
- Apakah senyumnya dipaksakan? Mungkin ada beban di hatinya.
Inilah implementasi nyata Madrasah Ramah Anak: perhatian personal yang tulus, bukan sekadar administratif.
Dari Ritual Menuju Makna
Setelah seluruh siswa masuk kelas, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Suasana yang tercipta bukan sekadar religius, tetapi juga tenang dan fokus—kondisi ideal untuk menerima ilmu.
Beberapa pihak mungkin menganggap tradisi ini “kuno” atau “tidak kekinian”. Justru sebaliknya. Di era digital yang serba cepat dan individualistik, kami justru sengaja mempertahankan praktik-praktik yang mengingatkan pada nilai-nilai dasar kemanusiaan: hormat, peduli, dan disiplin.
Jawaban atas Keraguan
Pernah seorang tamu bertanya dengan nada sedikit sinis: “Kok seperti anak TK, sih, harus baris dulu?”
Saya menjawab dengan tenang: “Justru inilah yang membedakan madrasah kami. Kami tidak memperlakukan siswa seperti anak TK, tetapi kami memastikan setiap siswa benar-benar siap belajar—secara fisik, mental, dan spiritual.”
“Bayangkan jika siswa datang tergopoh-gopoh, seragam tidak rapi, pikiran kacau, lalu langsung duduk di kelas. Apakah mereka bisa konsentrasi? Tentu tidak. Proses baris dan salaman ini adalah transisi yang disengaja dari dunia luar menuju dunia belajar.”
Pendidikan Karakter dalam Aksi
Tradisi sederhana ini sebenarnya mengandung semua nilai inti Penguatan Pendidikan Karakter (PPK):
- Religius melalui doa bersama
- Integritas melalui kedisiplinan waktu
- Nasionalis melalui tertib berbaris
- Gotong Royong melalui piket kelas
- Mandiri melalui tanggung jawab personal
Yang terpenting, semua nilai ini tidak diajarkan melalui ceramah, tetapi dihidupkan melalui pengalaman.
Virus Positif yang Menular
Yang menarik, tradisi ini tidak lagi menjadi beban bagi siswa. Justru mereka yang datang terlambat dan melewatkan momen ini merasa “ada yang kurang” dalam hari mereka. Inilah yang dalam teori pembentukan karakter disebut internalisasi nilai—ketika suatu praktik sudah berubah dari kewajiban eksternal menjadi kebutuhan internal.
Bahkan banyak alumni yang berkata: “Saya rindu suasana pagi di madrasah, Pak. Di tempat lain, tidak ada yang menyambut kita dengan perhatian seperti itu.”
Konsistensi yang Bermakna
Di MTsN 4 Jombang, kami meyakini bahwa pendidikan karakter yang efektif tidak membutuhkan program-program yang rumit dan berbiaya mahal. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan.
Baris sebelum masuk kelas mungkin terlihat sederhana. Namun dalam kesederhanaan itulah terkandung filosofi pendidikan kami: setiap interaksi adalah pelajaran, setiap rutinitas adalah pembentukan karakter, dan setiap pagi adalah kesempatan baru untuk menanamkan kebaikan.
Kami tidak hanya mencetak siswa yang pandai secara akademis, tetapi membentuk pribadi yang utuh: berakhlak, bertanggung jawab, dan memiliki emotional intelligence yang tinggi. Dan semua itu dimulai dari barisan rapi di depan kelas setiap pagi.






0 Comments