Saat Fisika Tak Lagi Sekadar Rumus: Cerita Mobil Balap Bertenaga Balon

by | Sep 4, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Ada satu bab dalam pelajaran IPA Fisika yang selalu berhasil membuat dahi saya dan anak-anak mengernyit bersamaan: Hukum Newton. Terutama Hukum Newton III. Saya bisa hafal di luar kepala definisinya: “Untuk setiap aksi, selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah.”
Saya tulis rumus F (aksi = -F(reaksi) besar-besar di papan tulis. Saya gambar panah ke kanan (aksi) dan panah ke kiri (reaksi). Saya berikan contoh tentang roket, tentang orang berenang, tentang mendayung. Hasilnya? Sama saja. Sebagian besar anak-anak di kelas MTs pondok pesantren tempat saya mengajar menatap saya dengan pandangan kosong. Bagi mereka, ini hanyalah satu lagi konsep abstrak yang harus dihafal untuk ujian nanti.
“Fisika itu susah, Ustaz,” keluh salah satu santri, dan saya tidak bisa menyalahkannya. Di titik itu, saya merasa hanya menjadi seorang “penyalin rumus” dari buku ke papan tulis. Tidak ada percikan, tidak ada kehidupan.


Malamnya, sambil termenung di kamar sederhana saya, saya berpikir keras. Bagaimana caranya membuat “aksi-reaksi” ini nyata bagi mereka? Bagi anak-anak yang dunianya adalah menghafal Al-Qur’an, bermain bola di lapangan, dan mengantre makan. Tentu tidak ada proyektor untuk memutar video peluncuran roket. Laboratorium kami pun sangat sederhana.
Lalu, sebuah ingatan dari masa kecil saya melintas. Sebuah mainan sederhana. Mobil-mobilan dari botol bekas yang bisa melaju karena tiupan balon. Ide itu terasa begitu konyol sekaligus cemerlang. Bisakah ini berhasil?


Eksperimen yang Penuh Tawa dan Sampah
Keesokan harinya, saya datang ke kelas bukan dengan tumpukan buku, tapi dengan sebuah karung besar. Isinya: botol-botol plastik bekas, sedotan, tusuk sate, tutup botol, dan sebungkus balon.
Anak-anak menatap saya dengan heran. “Hari ini kita tidak akan mencatat rumus,” ujar saya, mencoba terdengar se-antusias mungkin. “Hari ini… kita akan jadi insinyur dan mengadakan balapan mobil!”
Seketika, energi di kelas berubah. Wajah-wajah yang biasanya lesu kini tegak, penuh rasa ingin tahu.
Saya membagi mereka ke dalam beberapa kelompok dan memberikan misi: “Buatlah sebuah kendaraan dari barang-barang ini yang bisa melaju paling kencang hanya dengan tenaga dari satu tiupan balon.”
Lima belas menit pertama adalah kekacauan yang indah. Ada yang kesulitan melubangi botol, ada yang rodanya (dari tutup botol) terus-menerus miring, ada yang lemnya berceceran di mana-mana. Tapi di tengah kekacauan itu, tidak ada lagi wajah bosan. Yang ada adalah diskusi seru, tawa, dan seruan “Awas, rodanya copot!”
Saya berkeliling, bukan untuk mengajar, tapi untuk bertanya. “Kira-kira kenapa ya rodanya harus lurus?” atau “Menurut kalian, lebih bagus sedotannya lurus ke belakang atau agak miring?” Saya membiarkan mereka gagal, mencoba, dan menemukan solusinya sendiri.


Dan Momen Ajaib Itu Pun Tiba…
Setelah hampir satu jam, lantai keramik di depan kelas kami sulap menjadi sirkuit balap. Setiap kelompok maju dengan mobil rakitan mereka yang bentuknya unik-unik.
Satu per satu, mereka meniup balon, menahannya dengan jari, lalu melepaskannya. Ada mobil yang hanya berputar-putar di tempat, mengundang gelak tawa seisi kelas. Ada yang maju sedikit lalu berhenti.
Lalu, tibalah giliran kelompoknya Farhan. Mobil mereka terlihat paling ringkih, tapi rodanya terpasang lurus sempurna. Farhan meniup balonnya sekuat tenaga. Hitungan ketiga, jarinya dilepaskan.
Wussssh!
Udara menyembur ke belakang, dan mobil botol itu melesat lurus ke depan, lebih cepat dari yang lain.
“YEEEESSSS!” teriak mereka serempak, melompat-lompat kegirangan seolah baru saja memenangkan balapan F1. Seluruh kelas bertepuk tangan riuh.
Di tengah euforia itu, saya menghentikan mereka sejenak. “Hebat! Sekarang, Ustaz tanya. Kenapa mobil kalian bisa melaju ke depan?”
Semua terdiam sejenak. Lalu, dari bangku belakang, Aisyah yang biasanya pemalu mengangkat tangan. “Karena udaranya keluar ke belakang, Ustaz. Jadi udaranya mendorong udara di belakang, terus mobilnya didorong sama udara ke depan.”
Penjelasannya mungkin tidak 100% ilmiah, tapi intinya tepat. Lalu saya menyambung, “Nah, semburan udara ke belakang itu namanya AKSI. Dan dorongan yang membuat mobil maju ke depan itu namanya REAKSI.”
Hening. Saya bisa melihat “klik” di mata mereka. Seolah ada bohlam yang menyala di atas kepala mereka satu per satu. Rumus F(aksi) = -F(reaksi) di papan tulis yang tadinya terasa asing, kini punya makna. Mereka tidak hanya tahu, mereka paham karena mereka baru saja mengalaminya.
Hari itu, saya sadar bahwa inovasi mengajar yang paling kuat bukanlah tentang teknologi. Inovasi adalah tentang menciptakan sebuah pengalaman. Pengalaman gagal, mencoba, tertawa, dan akhirnya, menemukan.


Bagi rekan-rekan guru yang mungkin membaca ini, terutama yang berada di tengah keterbatasan, jangan pernah merasa kecil. Lihatlah sekeliling kita. Terkadang, pelajaran Fisika terbaik bukan datang dari buku teks yang mahal, melainkan dari sebotol plastik bekas dan sebuah balon.


Salam dari seorang guru yang masih takjub dengan kekuatan sebuah mobil bertenaga balon.

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Rino Junaidi

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *