Rehat Siang yang Penuh Cinta dan Tawa di Tengah Workshop

by | Oct 19, 2025 | School News | 0 comments

Sabtu siang, 18 Oktober 2025, jarum jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Aula Nyai Hj. Nor Khodijah MTsN 4 Jombang yang sejak pagi dipenuhi dengan semangat belajar dan diskusi ilmiah dalam Workshop Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta melalui Satuan Pendidikan Ramah Anak se-KKM MTsN 4 Jombang, tiba-tiba berubah suasananya.
Tidak lagi tegang dengan materi dan slide presentasi, melainkan menjadi tempat yang hangat, cair, dan penuh canda tawa.

Di tengah-tengah agenda istirahat siang, para peserta — bapak-bapak guru dan tenaga kependidikan — beralih dari lembar kerja dan laptop menuju meja prasmanan yang sudah tersaji rapi. Nasi hangat mengepul, lauk pauk tersusun cantik : ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, kerupuk yang kriuk, dan es buah segar menutup sempurna sajian siang itu. Semua tampak menikmati, saling berbagi senyum dan cerita, seolah beban dan penat hilang bersama aroma masakan yang menggoda.

Namun suasana semakin semarak ketika Pak Husen, sang ketua panitia yang sejak pagi tampak sibuk dan serius, tiba-tiba memegang mikrofon. Dengan percaya diri, beliau memecah keheningan dengan lantunan suara emasnya. Lagu mengalun, tawa pun pecah.


Tak lama berselang, Pak Imam Rofi’i ikut menambah meriah suasana dengan gayanya yang khas, membuat para peserta bertepuk tangan riuh.

Yang paling mengejutkan adalah ketika Kepala MTsN 4 Jombang, Bapak Sulthon Sulaiman, ikut nimbrung. Dengan santai dan senyum lepas, beliau mengambil mikrofon dan membawakan dua lagu legendaris karya almarhum Didi Kempot: “Tatu” dan “Banyu Langit.”
Nada-nada khas campursari itu mengalun syahdu, memantul di dinding aula, membawa suasana penuh nostalgia. Siapa sangka, di balik wibawa seorang kepala madrasah, tersembunyi suara yang ternyata cukup “ngemesi” dan membuat banyak guru bersorak kagum.

Ada yang spontan berujar sambil tertawa,

“Baru kali ini warga MTsN 4 Jombang mendengar Pak Sulthon bisa nyanyi juga!”

Kalimat itu langsung disambut tawa renyah seluruh ruangan. Makan siang prasmanan menjadi lebih dari sekadar jeda — ia berubah menjadi momen kebersamaan yang penuh kehangatan dan tawa.

Menariknya, meski suasana begitu santai dan meriah, satu hal tetap dijaga: tidak ada asap rokok. Bahkan ada yang berkomentar ringan namun sarat makna,

“Ini baru istirahat sejati — ada makan, ada musik, ada tawa, tapi tetap sehat tanpa asap rokok.”

WhatsApp Image 2025 10 18 at 19.52.08 1

Kebersamaan siang itu adalah cerminan nyata bahwa manusia, betapapun ilmiahnya kegiatan, tetap butuh hiburan dan ruang jiwa untuk bernapas.
Bahwa pembelajaran mendalam bukan hanya berbicara tentang teori, kurikulum, atau strategi, tetapi juga tentang memahami dimensi kemanusiaan — bahwa guru juga manusia yang perlu tertawa, perlu menikmati hidup, agar bisa kembali mengajar dengan hati yang gembira.

Rehat singkat itu menjadi simbol keseimbangan antara akal dan rasa, antara ilmu dan cinta.
Dalam bingkai Satuan Pendidikan Ramah Anak, momen sederhana itu justru menjadi pembelajaran tersendiri:
bahwa madrasah ramah anak lahir dari para guru yang juga ramah terhadap dirinya sendiri — yang tahu kapan harus bekerja keras, dan kapan harus menertawakan penat dengan tawa yang ikhlas.

Menjelang sesi siang workshop dimulai kembali, wajah-wajah ceria tampak lebih segar, energi terisi penuh. Musik telah reda, mikrofon dikembalikan, dan para peserta kembali ke kursinya masing-masing dengan semangat baru.
Istirahat bukan sekadar jeda, tapi menjadi ruang pembelajaran emosional — tentang pentingnya kebersamaan, keseimbangan, dan cinta dalam mendidik manusia.

Dan seperti kata pepatah Jawa yang sering diucapkan almarhum Didi Kempot:

“Urip iku kudu iso ngguyu, ben ora mambu kecut.”
(Hidup itu harus bisa tertawa, supaya tidak berbau masam.)

Begitulah, di tengah padatnya kegiatan workshop ilmiah, tawa dan lagu-lagu sederhana justru mengajarkan satu hal penting: bahwa madrasah yang hebat berawal dari manusia yang bahagia.

Solomon

Author

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *