Oleh: Sulthon Sulaiman
Dalam sebuah ruang kelas, pelajaran terpenting seringkali tidak terpahat di papan tulis, tetapi terukir dalam aksi nyata. Baru-baru ini, MTsN 4 Jombang menjadi laboratorium hidup dimana nilai-nilai kemanusiaan diajarkan bukan melalui teori, melainkan melalui praktik langsung. Landasan instruksi dari DPW Dharma Wanita pada 26 September 2025 bukan hanya menjadi sebuah perintah, tetapi lebih sebagai pemicu bagi sebuah gerakan sosial yang murni, melibatkan seluruh jantung sekolah—siswa, guru, dan karyawan—dalam sebuah aksi donasi untuk korban bencana alam di Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Apa yang terjadi selanjutnya di MTsN 4 Jombang adalah sebuah transformasi. Sebuah agenda donasi biasa berhasil diolah menjadi sebuah proyek pembelajaran bermakna ( meaningful learning ), sebuah kanvas dimana nilai-nilai filantropi dilukiskan dengan warna-warna yang hidup, kekinian, dan penuh makna.
Melampaui Kotak Donasi: Memaknai Ulang Filantropi di Kalangan Generasi Z
Di era yang seringkali dicap individualis, filantropi hadir sebagai penyeimbang. Ia bukan sekadar sinonim untuk “Sedekah” atau “Amal”. Filantropi adalah sebuah filosofi cinta kasih kepada sesama manusia, sebuah gerakan sadar untuk memberdayakan dan meringankan beban, yang dilakukan secara sukarela dan penuh kesadaran.
Bagi MTsN 4 Jombang, konsep inilah yang ingin diinternalisasikan. Kegiatan ini dirancang untuk menjadi cermin, agar setiap siswa dapat melihat refleksi empati dan tanggung jawab sosial dalam dirinya. “Kami tidak ingin ini menjadi kewajiban yang membebani,” ujar seorang guru yang terlibat. “Kami ingin ini menjadi sebuah platform dimana hati berbicara, dimana mereka belajar bahwa di tangan mereka, ada kekuatan untuk membawa perubahan, sekecil apapun itu.”
Inilah esensi filantropi edukatif: mengajarkan bahwa memberi bukanlah tentang kehilangan, melainkan tentang memperluas ruang kepedulian kita.
Sebuah Simfoni Aksi: Tahapan yang Menghidupkan Nilai
Aksi kepedulian ini seperti sebuah simfoni yang dimainkan dengan langkah-langkah terencana, dimana OSIS bertindak sebagai konduktor yang andal.
- Sosialisasi yang Membangun Empati (Sabtu, 27 September 2025): Hanya berselang satu hari, energi langsung disalurkan. Sosialisasi di hari Sabtu itu bukan sekadar pengumuman. Ia adalah sesi briefing kemanusiaan. Siswa diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga membayangkan, merasakan, dan akhirnya, tergerak untuk bertindak. Di sinilah benih filantropi pertama kali disemai.
- OSIS Sebagai Engine Penggerak: Pengumpulan donasi sepenuhnya dipercayakan kepada Tim OSIS. Ini adalah strategi cerdas. Alih-alih dikelola oleh guru, pemberdayaan OSIS menumbuhkan rasa kepemilikan (ownership) dan tanggung jawab di kalangan siswa. Mereka bukan lagi objek, melainkan subjek dari perubahan itu sendiri.
- Strategi Grid System yang Efisien: Untuk memastikan donasi merata dan efisien, Tim OSIS dibagi menjadi empat unit dengan misi yang jelas. Seperti tim respons cepat, mereka bergerak dengan kotak donasinya masing-masing:
· Tim 1 menjangkau wilayah K1.
· Tim 2 menuju K2.
· Tim 3 dan Tim 4 membagi wilayah di K3, memisahkan area laki-laki dan perempuan untuk menjaga etika. Pembagian tugas yang kekinian dan terstruktur ini mencerminkan manajemen proyek yang baik, sebuah skill yang sangat berharga di masa depan. - Transparansi: Fondasi Utama Filantropi Modern: Setelah donasi terkumpul, tahap penghitungan dilakukan secara transparan. Dalam dunia filantropi modern, akuntabilitas adalah segalanya. Proses ini mengajarkan kejujuran dan membangun kepercayaan—bahwa setiap rupiah adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
- Penyerahan yang Bermakna: Prosesi akhir adalah penyerahan donasi yang diwakili oleh OSIS kepada Ibu Sri di Kantor Kemenag Jombang (Ruang Pendis). Momen simbolis ini menunjukkan bahwa aksi kecil di tingkat sekolah adalah bagian dari sebuah ekosistem bantuan yang lebih besar dan terintegrasi.
Kurikulum Hati: Pelajaran Hidup yang Tidak Tertera di RPP
Jika dicermati, setiap tahapan dalam kegiatan ini adalah sebuah modul pembelajaran tersembunyi (hidden curriculum) yang sangat bernilai.
- From Sympathy to Empathy: Siswa diajak berpindah dari rasa kasihan (simpati) menjadi ikut merasakan (empati). Ini adalah fondasi dari semua tindakan filantropis.
- Social Responsibility in Action: Mereka mengalami langsung apa artinya tanggung jawab sosial. Bantuan yang diberikan bukanlah karena ingin dipuji, tetapi karena kesadaran sebagai bagian dari sebuah komunitas bangsa.
- The Power of Collaboration: OSIS belajar bahwa misi besar hanya bisa dicapai dengan kerja sama tim yang solid. Filantropi bukanlah aksi solo, melainkan orkestra.
- Integrity and Transparency: Pelajaran tentang integritas diajarkan secara kongkrit melalui pengelolaan dana yang jujur dan terbuka.
Penutup: Menanam Pohon Kebaikan untuk Masa Depan
Aksi donasi MTsN 4 Jombang ini telah usai. Namun, gelombang dampaknya terus berlanjut. Mereka tidak hanya mengirimkan bantuan materi, tetapi telah berhasil menanamkan “VIRUS” kepedulian di dalam sanubari setiap warga madrasah.
Inilah wajah filantropi masa depan: sebuah gerakan yang cerdas, terorganisir, dan penuh dengan nilai pendidikan. MTsN 4 Jombang telah membuktikan bahwa madrasah bukan hanya tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat menyemai benih kebaikan. Dan dari benih-benih yang ditanam dengan penuh kesadaran filantropis ini, akan tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara emosional dan sosial—generasi yang siap membawa Indonesia yang lebih manusiawi dan penuh kepedulian.






0 Comments