Oleh: Sulthon Sulaiman & H. Moh. Yazid
Jika dalam dua kisah sebelumnya kita menyelami akar historis sholawat yang terpatri sejak masa pra-penciptaan, kini kita akan menyambung rangkaian hikmah itu dengan melihat janji agung dari para malaikat utama. Sebuah “polis asuransi” spiritual dengan jaminan yang tak ternilai harganya, diberikan langsung oleh para pelaksana utama perintah Allah.
Dalam kitab Durrotun al-Nasihin, Syeikh Utsman bin Hasan al-Khoubawy meriwayatkan sebuah sabda Nabi Muhammad SAW yang membuka mata hati kita. Datanglah empat malaikat agung—Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil—menghadap Rasulullah dengan membawa penawaran khusus bagi umatnya yang setia bersholawat.
Malaikat Jibril: Sang Pemandu di Atas Titian Neraka
Malaikat Jibril, sang penyampai wahyu, yang pertama kali bersuara. Ia berkata, “Wahai Muhammad, barangsiapa dari umatmu yang setiap hari mau bersholawat kepadamu 10 kali, maka aku berjanji akan memegang tangannya untuk melewati shirath seperti kilat.”
Bayangkan Titian Shirath—sebuah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam, lebih tajam dari pedang dan lebih tipis dari sehelai rambut. Dalam kepanikan dan kengerian hari Kiamat, di saat banyak orang terpeleset dan terjatuh, seorang pembaca sholawat akan merasakan tangan Jibril menggenggamnya. Ia akan dibawa melesat melewati segala rintangan bagai kilat yang menyambar. Ini adalah jaminan safe passage dari sang pemandu wahyu Ilahi. Tangan yang sama yang menyampaikan Al-Qur’an, akan menggenggam tangan kita di saat paling kritis.
Malaikat Mikail: Penjaga Sumber Kehidupan di Padang Mahsyar
Berikutnya, Malaikat Mikail, sang penjaga rezeki dan pengatur alam semesta, menyampaikan janjinya. “Wahai Muhammad, barangsiapa dari umatmu yang setiap hari mau bersholawat 10 kali, maka aku akan memberinya minuman dari telagamu (Al-Kautsar), ketika semua orang kehausan di Padang Mahsyar.”
Padang Mahsyar adalah tempat berkumpul yang mencekam. Matahari hanya sejengkal di atas kepala, keringat membanjiri tubuh, dan dahaga yang tak tertahankan menyiksa setiap jiwa. Dalam kondisi itu, Telaga Al-Kautsar milik Nabi Muhammad menjadi oasis surgawi. Dan Malaikat Mikail—yang mengatur hujan dan menumbuhkan tumbuhan—berjanji secara pribadi akan menyuguhkan air suci itu kepada para pecinta sholawat. Ini adalah jaminan suplai di saat krisis total, sebuah “hidangan VIP” di tengah penderitaan massal.
Malaikat Isrofil: Pengemis Ampunan di Hadapan Singgasana Allah
Kemudian, Malaikat Isrofil, sang peniup sangkakala, membuat janji yang begitu mengharukan. “Aku akan bersujud kepada Allah dan tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah mengampuni orang pembaca sholawat tersebut.”
Ini adalah bentuk advokasi spiritual level tertinggi. Isrofil, yang tugasnya begitu dahsyat—meniup terompet kiamat dan kebangkitan—rela bersujud dan “mogik” di hadapan Allah. Ia tak akan bangun dari sujudnya sampai Allah SWT mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang bersholawat. Bayangkan, seorang malaikat agung bersedia menjadi pengemis ampunan untuk kita. Ini adalah jaminan pengampunan dengan jaminan pribadi dari sang penyelenggara Hari Kebangkitan.
Malaikat Izroil: Pencabut Nyawa dengan Penuh Kehormatan
Terakhir, Malaikat Izroil, sang pencabut nyawa yang ditakuti semua makhluk, menyampaikan kabar gembiranya. “Wahai Muhammad, barangsiapa dari umatmu yang setiap hari bersholawat kepadamu 10 kali, maka aku akan mencabut nyawanya seperti aku mencabut arwahnya para Nabi.”
Kematian adalah momen paling intim dan menegangkan bagi setiap jiwa. Izroil berjanji akan memperlakukan kematian seorang pengamal sholawat dengan kelembutan dan kehormatan setara dengan para nabi. Bukan sekadar “mencabut”, tetapi memandikan proses kematian itu dengan kemuliaan. Ini adalah jaminan end-of-life care yang paling diidam-idamkan setiap muslim—sebuah transisi yang damai, penuh cahaya, dan diiringi rasa hormat.
Meluruskan Niat: Bukan Sekadar Transaksi, Tapi Ekspresi Cinta
Membaca janji-janji agung ini, hati kita tentu bergemuruh. Namun, penting untuk meluruskan niat. Sholawat bukanlah sekadar “kode voucher” untuk mengklaim jaminan-jaminan ini. Ia adalah ekspresi cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Janji para malaikat ini adalah buah, bukan tujuan. Ia adalah konsekuensi logis dari sebuah hati yang telah dipenuhi dengan kecintaan kepada Rasulullah.
Sholawat 10 kali sehari adalah jumlah yang sangat mudah. Ia bisa dilafalkan dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan itu, ia mengikat kita dalam sebuah narasi kosmik yang agung:
- Saat kita bersholawat, kita menyambung tali dengan Jibril yang pertama kali bersholawat atas perintah Allah.
- Saat kita bersholawat, kita mengulang mahar spiritual Nabi Adam untuk meraih cinta dan keberkahan.
- Dan saat kita bersholawat, kita mengaktifkan “jaringan pengaman” dari empat malaikat utama yang siap menopang perjalanan ukhrawi kita.
Menjadi Keluarga Besar Para Pecinta Sholawat
Kisah ini, bersama dua narasi sebelumnya, membentuk sebuah trilogi hikmah tentang sholawat. Ia menunjukkan bahwa sholawat bukanlah ritual tambahan, melainkan inti dari perjalanan spiritual seorang muslim. Dari rahim pra-penciptaan, melalui pernikahan pertama manusia, hingga jaminan di akhirat, sholawat adalah benang emas yang menyambungkan segala sesuatu.
Mari kita jadikan sholawat sebagai napas harian. Bukan karena takut neraka atau ingin surga, tetapi karena cinta kita yang tulus kepada Sang Nabi, yang karena dirinya, semesta diciptakan. Dan dengan cinta itu, tanpa kita minta pun, para malaikat agung akan berbaris untuk memberikan jaminan terbaik mereka.
Wallahu a’lam bissawab.
Tulisan ini di sarikan dari pengajian kitab Hikayah di Ruang guru MTsN 4 Jombang, pertemuan ke 6, di asuh oleh Bpk. H. Moh. Yazid.






0 Comments