Mahar Semesta : Sholawat Nabi Adam dan Rahasia Cinta di Balik Penciptaan

by , | Sep 29, 2025 | Artikel Pendidikan | 0 comments

Oleh : Sulthon Sulaiman & H. Moh. Yazid

Dalam kitab Roudlotu al-Rayahin fi Hikaayati al-Sholihin, Syeikh Abdullah bin As’ad al-Yafi’i meriwayatkan sebuah kisah yang mencerahkan. Dari Wahb bin Munabbih, kita diajak menyelami momen-momen pertama penciptaan Nabi Adam AS—bukan sekadar sebagai leluhur manusia, melainkan sebagai sosok yang diperkenalkan pada sebuah rahasia agung yang menjadi inti dari keberadaannya dan seluruh keturunannya.

Saat Mata Pertama Terbuka, Kalimat Agung Telah Menyambut

Bayangkan sebuah momen yang paling sublim dalam sejarah kosmis: Ruh Ilahi ditiupkan ke dalam tubuh tanah liat yang sempurna. Untuk pertama kalinya, kedua mata Nabi Adam terbuka. Cahaya keberadaan membanjiri kesadarannya. Dan hal pertama yang memenuhi pandangannya bukanlah pemandangan surga yang memesona, bukan sungai-sungai yang mengalir, bukan pula buah-buahan yang ranum.

Di pintu surga, terpampang jelas sebuah kalimat yang kelak akan mengguncang dunia dan menggetarkan singgasana para tirani: “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.”

Kalimat itu bukan sekadar hiasan. Ia adalah pengumuman resmi, sebuah “Statement of Purpose” dari semesta itu sendiri. Sejak awal, bahkan sebelum manusia pertama menginjakkan kakinya, identitas dan misi utusan terakhir sudah tertera dengan gemilang.

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya: Siapakah Muhammad itu?

Melihat tulisan itu, hati Adam bergejolak. Sebuah pertanyaan mendesak keluar dari bibirnya, yang mungkin juga adalah pertanyaan eksistensial pertama umat manusia: “Wahai Rabbku, apakah Engkau menciptakan makhluk di sisi-Mu yang lebih mulia dariku?”

Adam, yang diciptakan langsung oleh Tangan-Nya, yang ditiupkan Ruh-Nya, merasa heran. Adakah makhluk yang melebihi kesempurnaannya?

Dan Allah SWT, al-Jalil (Yang Maha Agung), menjawab dengan tegas: “Ya.”

Jawaban singkat ini meruntuhkan segala bentuk keangkuhan potensial. Lalu Allah menjelaskan: “Aku ciptakan makhluk yang lebih mulia darimu. Dia adalah Nabi dari keturunanmu. Aku utus dia di akhir zaman dengan ayat dan burhan (bukti yang nyata). Dia adalah sebaik-baik Nabi dan umatnya adalah sebaik-baik umat.”

Di silah kita memahami sebuah kebenaran yang mendasar: Kemuliaan bukan terletak pada materi penciptaan (tanah liat vs cahaya), bukan pada waktu (yang pertama vs yang terakhir), tetapi pada kedudukan di sisi Allah dan misi yang diemban. Muhammad SAW, sang “Nabi Akhir Zaman”, adalah puncak dari mahkota kenabian, pemungkas risalah langit, dan rahmat bagi seluruh alam.

Hawa dan Mahar Terindah: Kontrak Cinta Pertama dengan Sholawat

Kemudian, Allah menciptakan Hawa. Dan sebagaimana kodratnya, hati Adam tertarik kepada Hawa. Sebuah ikatan cinta dan kasih sayang terajut. Dalam keinginannya untuk menyatukan cinta itu dalam ikatan yang sah, Adam memohon: “Ya Rab, nikahkan aku dengannya.”

Allah, yang Maha Bijaksana, tidak serta merta mengabulkan. Sebuah syarat diajukan: “Berikan dulu maharnya.”

Dalam benak kita mungkin terbayang emas, permata, atau sesuatu yang material. Tapi Allah mengajarkan bahwa mahar tertinggi bukanlah benda dunia. Adam bertanya, “Apa maharnya?”

Dan inilah klimaks dari kisah ini. Allah berfirman: “Bacalah sholawat untuk nama yang tertulis di pintu surga, yaitu Muhammad, sebanyak 100 kali.”

Bayangkan! Untuk menikahi pasangan hidupnya, untuk melegalkan cinta insani pertama, Allah meminta Adam untuk memuji sang Nabi akhir zaman. Adam, yang penuh ketakjuban, konfirmasi ulang, “Ya Rab, apakah jika aku baca sholawat 100 kali untuk Muhammad, Engkau akan menikahkan aku dengan Hawa?”

Allah menjawab singkat dan pasti: “Ya.”

Maka, dengan khusyuk dan penuh kecintaan, Nabi Adam AS pun melantunkan sholawat 100 kali kepada Nabi Muhammad SAW. Atas mahar spiritual itulah, pernikahan pertama dalam sejarah umat manusia disahkan oleh Allah SWT.

Makna Mendalam yang Terkandung bagi Umat Manusia

Kisah ini, meski berasal dari sumber hikayat dan perlu disikapi dengan pemahaman ilmu hadits yang tepat, mengandung samudra makna yang dalam:

  1. Kedudukan Nabi Muhammad SAW yang Transenden: Nama Muhammad telah ada sebelum Adam, sebelum surga, sebelum segala sesuatu. Ia adalah “Cahaya Allah” (Nurullah) yang menjadi sebab dan tujuan penciptaan. Kemuliaan Adam sebagai bapak manusia tak mengurangi kemuliaan Muhammad sebagai penutup para nabi dan kekasih Allah.
  2. Sholawat sebagai Mata Uang Spiritual Tertinggi: Allah tidak meminta Adam untuk bersujud, berpuasa, atau shalat 100 rakaat. Mahar untuk pernikahan suci itu adalah sholawat. Ini menunjukkan betapa bernilainya sholawat di sisi Allah. Ia adalah ibadah yang langsung terkait dengan cinta kepada Rasul-Nya.
  3. Pernikahan yang Diberkahi Dimulai dengan Ketaatan: Kisah ini mengajarkan bahwa fondasi pernikahan yang kuat bukanlah harta benda, tetapi keberkahan spiritual. Memulai bahtera rumah tangga dengan mentaati Allah dan mengagungkan Rasul-Nya adalah resep abadi untuk meraih sakinah, mawaddah, wa rahmah.
  4. Koneksi Ruhani Antara Para Nabi: Adam, nabi pertama, diperintahkan untuk bershalawat kepada Muhammad, nabi terakhir. Ini menciptakan sebuah mata rantai cinta dan penghormatan yang tak terputus di antara para utusan Allah. Setiap nabi, dalam misinya, membawa benih risalah yang akan mencapai puncaknya pada Nabi Muhammad SAW.
  5. Jawaban atas Keheranan Adam: Pertanyaan Adam, “Apakah ada yang lebih mulia dariku?” dijawab dengan pengenalan akan Muhammad. Pelajaran berharganya: Selalu ada ruang untuk kerendahan hati. Sehebat apapun kita, selalu ada yang lebih mulia di sisi Allah, dan kemuliaan tertinggi adalah dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW.
Refleksi Akhir: Warisan Abadi Nabi Adam

Setiap kali kita bersholawat, kita sedang mengulangi sebuah tradisi yang dimulai oleh Nabi Adam AS. Kita sedang membayar “mahar” spiritual kita untuk meraih cinta dan berkah Allah. Setiap “Allahumma sholli ‘ala Muhammad” yang kita ucapkan adalah pengakuan bahwa kita adalah bagian dari umat terbaik yang disebutkan dalam dialog itu, umat yang dilahirkan dari rahmat karena Nabi Muhammad SAW.

Kisah Nabi Adam dan mahar sholawatnya mengingatkan kita bahwa inti dari segala sesuatu adalah cinta—cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya. Sebelum ada dunia, sebelum ada nafas pertama, sebelum ada ikatan pernikahan pertama, yang ada hanyalah Nama Allah dan Nama Rasul-Nya, terpampang di pintu surga, menunggu untuk dikenali, diimani, dan dicintai.

Wallahu a’lam bissawab.

Tulisan ini di sarikan dari pengajian kitab Hikayah, di ruang Guru MTsN 4 Jombang, oleh Bpk. H. Moh. Yazid, pertemuan ke 5

Authors

Artikel ini telah dibaca:

Written by Sulthon Sulaiman

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *