“Mengapa seni diajarkan di sekolah?”
“Untuk apa kalian yang sudah duduk di bangku MTsN tetap diajari menggambar, menyanyi, bahkan menari?”
Dua pertanyaan di atas adalah apersepsi yang selalu saya gunakan untuk memulai pelajaran seni di awal-awal pertemuan. Jawaban yang saya peroleh bermacam-macam.
“agar kita bisa melestarikan seni dan budaya bangsa.”
“agar kita menjadi kreatif.”
Bahkan ada yang menjawab lebih sederhana, “agar tidak bosan, Pak!”
Jawaban-jawaban di atas semuanya benar. Tapi ada hal mendasar yang menjadi alasan mengapa seni tetap diajarkan sampai mereka lulus tingkat SMA.
1. Setiap Siswa Memiliki Keunikan Kemampuan
Tidak semua siswa memiliki kemampuan akademik yang sama. Ada anak yang unggul dalam matematika atau sains, sementara yang lain lebih menonjol dalam bidang seni, baik musik, tari, maupun rupa. Dengan adanya pelajaran seni, sekolah memberi ruang bagi setiap siswa untuk menemukan kelebihan dan bakatnya di luar aspek akademik semata.
2. Seni sebagai Sarana Pembentukan Emosi, Karakter, dan Kecerdasan
Melalui seni, siswa tidak hanya belajar mengekspresikan perasaan, tetapi juga berlatih mengelola emosi dan memahami perasaan orang lain. Seni turut membentuk karakter dan kepribadian, karena di dalamnya terkandung nilai kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, serta rasa percaya diri saat menampilkan karya.
Selain itu, aktivitas seni seperti menggambar, menari, atau bermain musik juga mengasah kemampuan motorik dan kognitif, melatih koordinasi tubuh, ketelitian, serta konsentrasi yang bermanfaat dalam berbagai aspek kehidupan.
3. Pergeseran Pandangan terhadap Profesi Seni
Pada masa lalu, pekerjaan yang dianggap memiliki nilai ekonomis terbatas pada profesi mapan seperti dokter, pengacara, atau insinyur. Namun kini, seiring perkembangan zaman, profesi di bidang seni tidak kalah menjanjikan. Musisi, desainer, ilustrator, hingga kreator konten mampu berkontribusi besar dalam perekonomian dan memiliki peran penting di masyarakat. Dengan diajarkannya seni di sekolah, siswa dipersiapkan untuk menghadapi realitas baru bahwa dunia kreatif adalah bidang yang memiliki masa depan cerah.
4. Perubahan Cita-Cita Generasi Muda
Dulu, ketika seorang siswa ditanya tentang cita-citanya, jawaban yang muncul hampir selalu sama: dokter, insinyur, guru, atau profesi mapan lainnya. Profesi-profesi tersebut memang lama dianggap sebagai pekerjaan dengan masa depan cerah.
Namun, kini kita melihat perubahan besar. Cita-cita baru bermunculan, seiring berkembangnya zaman. Banyak siswa yang ingin menjadi musisi, desainer, konten kreator, bahkan gamers profesional. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan terhadap profesi seni dan kreatif mulai mendapat tempat yang sama terhormatnya dengan profesi lainnya.
Perubahan pandangan ini tidak lepas dari kenyataan bahwa profesi di bidang seni dan industri kreatif memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Penghasilan seorang musisi, desainer, konten kreator, bahkan gamers tidak kalah dengan profesi yang dulu dianggap “Pasti Mapan”. Mereka mampu menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai hiburan, tetapi juga memberi dampak sosial dan ekonomi yang nyata. Fakta ini menguatkan bahwa seni bukan sekadar hobi, melainkan jalan karier yang menjanjikan.
5. Ciri Khas Pembelajaran Seni di Madrasah
Itulah mengapa di sekolah, seni tetap menjadi salah satu pelajaran yang diajarkan. Tak terkecuali di MTsN 4 Jombang. Tentu saja pembelajaran seni di madrasah memiliki ciri khas tersendiri. Seni tidak hanya dipandang sebagai sarana ekspresi duniawi, tetapi juga diarahkan agar sejalan dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan di pesantren.
Dengan pendekatan ini, seni menjadi lebih bermakna. Seni bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk mendidik, menanamkan akhlak, dan mempromosikan nilai-nilai Islam ala pesantren.
Penutup
Dari semua alasan di atas, tugas guru seni bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga menemukan, mengarahkan, dan mengembangkan potensi siswa. Sering kali bakat seni tersembunyi dalam diri anak dan tidak akan muncul tanpa bimbingan yang tepat.
Melalui pembelajaran seni, siswa dapat mengasah keterampilan sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimilikinya. Dengan demikian, seni di sekolah bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan sarana penting untuk membentuk generasi yang kreatif, berkarakter, dan berdaya saing.






0 Comments